Home / Opini / Kita Butuh Pemimpin, Bukan Self Abosorded People

Kita Butuh Pemimpin, Bukan Self Abosorded People

“Jika yang terpilih adalah mereka yang berkualitas pemimpin, maka ada peluang dan harapan bagi rakyat untuk menjadi lebih sejahtera. Jika yang terpilih adalah kaum “self-absorded”, maka kehidupan bernegara akan semakin memburuk. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa apabila pemilu kali ini gagal menghasilkan pemimpin-pemimpin, maka NKRI akan terjun-bebas menuju perpecahan”

Oleh: Johannes Kaunang

 

 

Delegasi.Com – Pada 17 April 2019, rakyat Indonesia akan melakukan pemilihan umum (pemilu) anggota legislatif dan presiden sebagai salah satu program politik 5-tahunan. Pemilihan umum ini adalah bagian dari upaya melaksanakan demokrasi secara konsisten dan konsekuen. Namun, seiring dengan itu, berdasarkan pengalaman pemilu-pemilu selama ini, muncul satu pertanyaan yang menggelitik: Apakah nanti akan terpilih orang-orang yang berkualitas pemimpin atau orang-orang yang hanya mementingkan diri-sendiri/”self-absorded”) ?! Jika yang terpilih adalah mereka yang berkualitas pemimpin, maka ada peluang dan harapan bagi rakyat untuk menjadi lebih sejahtera. Jika yang terpilih adalah kaum “self-absorded”, maka kehidupan bernegara akan semakin memburuk. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa apabila pemilu kali ini gagal menghasilkan pemimpin-pemimpin, maka NKRI akan terjun-bebas menuju perpecahan.

Bagaimana cara mengenali orang-orang yang tergolong “self-absorded people” ?! Inilah beberapa masukan untuk mengenali mereka yang tidak pernah peduli dengan kepentingan orang lain:

 

  1.          Berpikiran sempit: Pemikirannya sempit karena bagi mereka dunia ini hanyalah tentang dirinya saja, padahal ada sebuah pepatah warisan nenek moyang sebagai leluhur yang sangat bijak yaitu “dunia tidak selebar daun kelor”.

 

  1. Selalu bersikap memaksa: Sikap ini dilandasi oleh egoisme mereka yang keterlaluan atau berlebihan sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Oleh sebab itu, muncul kebiasaan mereka untuk memaksakan kehendak sendiri bahkan dengan cara-cara yang sangat kasar (bahasa dan perilakunya). Mereka, biasanya, juga sangat royal dengan kata-kata dan gestur tubuh yang menimbulkan ketakutan bagi orang lain.

 

  1. Sangat defensif: Mereka tidak tahan menerima kritik sehingga selalu bereaksi negatif terhadap setiap kritik yang ditujukan kepada mereka. Mereka selalu beranggapan bahwa kritik adalah kejahatan yang harus dibasmi. Mereka tidak mampu untuk membedakan antara kritik dengan ujaran kebencian; bahkan mereka tidak segan-segan menggunakan kebohongan {“hoax”) untuk menangkal kritik.

 

  1. Sering dihantui perasaan tidak aman: Hal ini disebabkan karena kemampuan berpikirnya sempit sehingga sering memaksa dan juga sering mengabaikan realitas karena sering tidak mau menerima kritik, Oleh sebab itu, mereka sering dihantui oleh rasa tidak aman. Mereka biasanya banyak dikelilingi oleh orang-orang yang harus bermanfaat mengamankan dirinya karena kalau tidak demikian maka orang lain itu adalah musuh atau hanya “seonggok daging bernama manusia” yang tidak bernilai.

 

  1. Suka merendahkan orang lain: Ini sebenarnya kompensasi dari kondisi “inferiority” yang mengendap di alam bawah-sadarnya. Mereka sering mengobral cerita kesuksesannya sendiri, dan tidak merasa malu untuk menyadari bahwa kesuksesan itu hanya memuaskan dirinya sendiri, bukan kesuksesan karena berhasil memimpin suatu kelompok masyarakat.

 

  1. Kurang menyukai persahabatan jangka panjang: Mereka tidak memiliki sahabat, dalam arti yang sesungguhnya, dalam jangka waktu yang lama karena mereka hanya memerlukan orang-orang yang dapat dimanfaatkan bagi dirinya sendiri untuk selalu berada di sekelilingnya. Mereka hanya memerlukan para dayang di setiap harinya, bukan sahabat.

 

  1. Ukuran keberhasilannya adalah apa yang dia telah dan akan buat: Mereka selalu lupa bahwa ukuran keberhasilan adalah peningkatan kesejahteraan orang-orang atau rakyat yang dipimpin. Dalam hal ini adalah kesejahteraan lahir dan bathin, fisik dan non-fisik, material dan immaterial.

 

  1. Selalu menganggap pencitraan lebih penting daripada substansi: Dalam melakukan sosialisasi diri mereka tidak menganggap penting data dan fakta. Mereka sangat sibuk memoles dirinya demi pencitraan; kalau perlu pakai make-up setebal dempul mobil demi menutup bopeng dan cacat lain pada mukanya.

 

  1. Narsis dan arogan: Inilah tampilan akhir dari mereka yang tergolong kaum “self-absorded” yang tidak pernah peduli terhadap kepentingan orang lain. Ungkapan yang sangat disukai mereka adalah “inilah aku yang egoist, engkau suka atau tidak suka, aku tidak peduli”.

Demikianlah serangkaian masukan untuk mengenali para calon anggota legislatif dan presiden yang tergolong “self-absorded people”; mungkin, masih ada lagi ciri-ciri golongan tersebut yang dapat ditambahkan tetapi apa yang telah diuraikan di atas sudah mencukupi standard minimalnya.

 

Semoga pemilu 17 April 2019 berhasil melahirkan pemimpin-pemimpin. Amin ‼

 

 

Komentar ANDA?

About Delegasi Online

Check Also

Gubernur Laiskodat Pastikan Hadir di Festival Sarung Tenun Ikat NTT

Kupang, Delegasi.Com – Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dipastikan akan menghadiri acara Festival Sarung Tenun ...