Home / Opini / Squat Jump VS  “Latihan” Ala  Gubernur NTT
Ilustrasi foto //Foto: Istimewa

Squat Jump VS  “Latihan” Ala  Gubernur NTT

“Negri yang bermartabat, berdaulat dan berkarakter sekalipun latarbelakang masyarakatnya keras dan temperamen, tidak seharusnya wajib menyelesaikan persolan dengan “Latihan” ala bapak. Kalau masalah seperti ini dibilang “latihan”, lalu yang seriusnya seperti apa?apakah lari keliling daerah NTT? Jawabannya,TIDAK! “

Surat terbuka STELO, Rohaniwan, tinggal di Nunukan – Kaltim

 

Mengutip apa yang tertulis dalam kompas.com, 24 Oktober 2019 pukul.14. 32 khusunya alinea terakhir pada barisan kalimat paling akhir: “Kepada sejumlah wartawan Viktor mengatakan bahwa ia hanya memberikan perintah untuk latihan.”Itu hanya latihan saja, bukan squat jump,” ujar Viktor singkat.

Membaca pernyataan di atas yang bernada sedikit sombong dan  menegaskannya dengan apa yg ada dalam video, sebagai anak kelahiran Kota Kupang yang sedang merantau di Provinsi Kalimantan Utara dengan tugas mulia sebagi rohaniwan, saya merasa miris.

Dalam hati kecil, saya sangat kecewa atas tindakan seorang Gubernur terpilih  perode 2019-2024 dalam menyelesaikan sebuah persoalan yang terjadi dikalangan internal jajaran pemerintah Propinsi Nusa Tengara Timur.

Apapun  logika yang dibangun demi kehormatan dan wibawa seorang pemimpin nomor satu NTT  oleh karena “error soundsistem” untuk sebuah pertemuan akbar untuk jajaran pemerintahan, tidaklah demikian harus memberi “Latihan” sebagaimana video yang beredar.

Masih ada banyak cara bijak untuk memberi pelajaran berharga atau efek jerah atas keselahan yang tidak terlalu fatal.

Bagi saya,  viedo atau berita ini  adalah sebuah tindakan tidak terpuji atau lebih tepat tindakan amoral.

Negri NTT, bukanlah harus terkenal dengan “latihan” ala Gubernur periode 2019-2024 ,tetapi bagaimana bisa menjadi negri yang syarat akan kebajikannya.

Saya tidak peduli, apakah bapak dibilang mantan preman atau mafia berkelas kaliber.

Bagi saya, itu urusan bapak, tapi yang saya peduli dan ingin saya katakan adalah apakah mencekamnya wilayah NTT khususnya Kota Kupang yang terkenal sebagai kota preman terbesar ketiga (saat itu waktu saya masih SD-SMP-1986-1992) akan kembali menjadi warna warni saat ini dalam kepemimpinan bapak?

Lebih menggelikan tindakan menjajah melalui “hukum rimba” ini merambah kerana jajaran pemerintahan.

Sadar atau tidak  konsekuensinya masyarakat kecilpun akan terkencing-kencing bila bertemu atau berjumpa bapak sekalipun itu dalam suasana santai, misalnya di pasar, memberi salampun mikir seribu kali karena “Sang Harimau” lagi berkeliaran di pasar.

Mungkin ini terlihat sebuah spekulasi atas masa silam dan yang terjadi saat ini. Namun setidaknya ini yang bisa saya gambarkan atas peristiwa memberi “latihan” kepada rekan kerja bapak.

Apa yang saya surati, lebih pada rasa cinta saya kepada negri tercinta NTT yang sementara dititipkan kepada bapak, itupun hanya untuk 5 tahun ke depan.

Negri yang bermartabat, berdaulat dan berkarakter sekalipun latarbelakang masyarakatnya keras dan temperamen, tidak seharusnya wajib menyelesaikan persolan dengan “Latihan” ala bapak. Kalau masalah seperti ini dibilang “latihan”, lalu yang seriusnya seperti apa?apakah lari keliling daerah NTT?jawabannya,TIDAK!

Saya yakin kesalahan teknis yang terjadi hanyalah sebuah akumulasi persiapan yang belum sempurna namun sangat disayangkan efek dan konsekuensi atas viralnya video Squat Jump di dunia medsos justru memperlihatkan integritas dan elektabilitas bapak Gubernur NTT periode 2019-2024 yang menurut hemat saya ini bukan sebuah kebanggaaan yang perlu ditiru atau jaman di mana dalam kepemimpinan bapak, membuat rakyat menjdi takut.

Video “latihan” ala bapak gubernur tidak saja membunuh karakter mereka yang diberi “latihan” tapi juga kami rakyat NTT yang menonton. Apalagi kami yang merantau akibat ketipu calo tanpa identitas yang valid.

Mungkin lebih baik kami derita di negri orang yang mempunyai hati yang lembut daripada harus tinggal di negri sendiri namun derita batin lebih menyiksa karena  sang pemimpin akan memberi “latihan”  tatkala kami melakukan kesalahan dan bukan sebaliknya dengan karakter kebapaan memanggil dan mengajarkan bagaimana menyiapkan mikrofon yang baik dan benar.

Saya berpikir bapak bukanlah warga NTT yang baik dan sejati, apalagi disebut pemimin yang baik dan sejati.

Maka dari negri Borneo, Kalimantan Utara, Kabupaten  Nunukan, Kecamatan Lumbis daerah Mansalong:

Pertama, saya mohon bapak untuk meminta maaf kepada seluruh rakyat NTT dan berjanji selama dalam kepemimpinan bapak, tidak ada lagi tindakan “latihan” baik itu kepada rakyat, jajaran pemerintahan. Kesan saya bapak cukup arogan. Hari masih panjang dalam kepemimpinan bapak. Jangan membuat saya menjadi pesimis dan dengan terpaksa mengatakan bapak tidak cocok memimpin negri tercinta NTT.
Bumi NTT,” kering korontang, tapi hati rakyat tidak kering dan kerontang “. Kalau bapak masih memakai cara yg sama untuk kedepannya, Saya tidak akan berhenti untuk terus menyuarakan bahwa apa yg bapak buat itu keliru dan salah.

Kedua; ada baiknya bapak fokus mengurus kesejahteraan rakyat NTT biar rakyatnya jangan jadi jongos di negri orang, apalagi hanya karna tipuan “calo manusia”dengan imingan gaji yang besar yang nota bene PR alias pekerjaan rumah dalam pemerintahan bapak.

Ketiga;  saya sangat mendukung, fokus kerjanya kembali melihat apa yang menjadi Visi, Misi sebagaimana yang sudah dirancang oleh tim percepatan pembamgunan NTT bersama bapak Gubernur.

Visi, Misi  jangan hanya sebuah wacana dan janji politik belaka tetapi mari wujudkan sebagamana mimpi mulia Bapak Gubernur.

Keempat; Saran saya,  ada baiknya viralnya di medsos tentang bapak Gubernur lebih pada bagimana bapak bersama tim percepatan pembangunan NTT berseinergis melakukan pemetaan-pemetaan persoalan yang ada dan bagaimana solusinya ketimbang viral karena prestasi tindakan bapak seperti vedeo yang lagi beredar-“sguat jump”.

Saya ambil contoh, khususnya Sikka, Flores Timur dan Lembata punya hasil laut seperti ikan, namun di daerah ini belum ada pabrik ikan kaleng. Negri NTT pun penghasil kakao dan kemiri namun belum ada pabrik coklat dan minyak kemiri.

Kalaupun ada, paling hanya industri kecil-kecilan. Bukankah dengan pabrik industri yang besar,terciptalah lapangan kerja dan putra putri daerah  serta negri NTT menjadi sejahterah dari hasil alamnya sendiri?

Sebelum saya akhiri surat saya, titip satu hal lagi; tidak semua daerah NTT adalah penenun jadi jangan wajibkan putri-putri NTT untuk bisa menenun. Tenun adalah estetika dan hanya terwariskan kepada anak cucu yang para leluhurnya penenun.

Kesanya apa yang bapak wajibkan sangat tendensius. Mari, bergandeng tangan merajut hati, membangun negri NTT.

Salam Hati
By STELO
Jumat, 25 Oktober 2019

Komentar ANDA?

About Delegasi Online

Check Also

Catatan Hitam Yasonna Hamonangan Laoly

Yasonna Hamonangan Laoly resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai menteri hukum dan hak asasi manusia ...