Home / Opini / Surat Kepada Teman

Surat Kepada Teman

“Ukuran keberhasilan memimpin
bukan pada apa yang telah dikerjakan oleh pemimpin
tetapi pada apa yang terjadi pada rakyat yang dipimpin…(The measure of success leads is not on what the leader has done but on what happens to the people he leads)”

John Kaunang 

 

 

TEMAN, daku mulai tulisan ini dengan sepenggal puisi Dante (t1265M-t1321M), yang dipetik dari rumpun puisi Inferno, canto 1, dalam kumpulan La Divina Commedia sebagai berikut [terjemahan bebas dari bahasa Italia]:

“Midway upon the journey of our life[1]
I found myself within a forest dark,[2]
For the straightforward pathway had been lost” [3]

 

Di tengah perjalanan hidup kita[1] … Teman, tahukah dikau, siapa yang telah demikian mengasihi sehingga kita punya hidup dan hidup kita punya perjalanan di alam-kehidupan ini ?!

Aku pernah bertanya pada akalpikiranku yang liar, seperti akalpikiranmu jua ‘kan.

Dan, tahukah teman, apa jawaban dia ?!

Dia diam, tetapi keliarannya melemparkan selimut kesombongan kepadaku, menutupi seluruh indera-manusiawiku, dan nafasku
tersengal-sengal sesak dalam gelap selimut, aku terkejut …

Aku menemukan diriku di dalam
hutan-rimba yang gelap[2]

… dan, tiba-tiba ada getar suara menusuk tajam telingaku —
jadilah singa, macan, dan serigala, maka kau dapat berkelana di kegelapan hutan-rimba ini — dan, di antara pepohonan dan dedaunan muncul nyala api membakar panas, dan suara itu kembali menusuk — inferno, inferno, inferno —.

Teman, daku gemetar, daku
ketakutan, keringat menusuk-nusuk perih kulitku, daku menjerit, berteriak, dan ingin berlari, dan berlari, tetapi kakiku berkesah dalam bingung dan sedih menatap daku tuannya.

Dia bertanya tentang jalan untuk ditapaki berlari membawa daku pergi.

Tetapi, aku juga bingung, jawaban apa yang harus kuberikan kepada kaki-setiaku itu, teman …

Karena jalan yang lurus telah hilang[3]

… jalan yang hendak ditempuh, yang membuat dia dapat membawa tubuhku melangkah, dan berlari. Teman, daku terjerumus ke dalam
tragedi keputus-asaan yang menyayat-nyayat perih, yang meniadakan daku dalam ngeri
kegelapan itu.

Tetapi, teman, dalam kekapan bunyi api inferno membakar itu, sebuah
simfoni lembut nan indah menyejukkan yang selalu mengalun tak kuhiraukan, yang berasal dari petikan kecapi oleh jari jemari penuh cinta-kasih di dalam hati-nuraniku, menyeruak masuk telinga batinku.

Teman, ketahuilah, dalam sekejap saja lututku bertekuk, menarik tubuhku mengikuti tekukannya, dan mengajak kepalaku membimbing
ramah tubuhku bersujud; dan, lutut setiaku menggelitik kepalaku untuk senyum bersama,meraih dan memeluk hatiku, mengajak lidahku berucap kepada-Nya, Sang Pencipta yang Maha Pengasih—

Tuhan, aku mohon ampunan kepada-Mu, ampunilah akalpikiranku yang liar dan selalu menebar selimut kesombongan, yang menyungkupi daku dalam
kegelapan mengerikan; ampunilah daku yang hina ini ya Tuhanku, tetapi terjadilah menurut kehendak-Mu, karena sesungguhnya aku adalah hamba-Mu —.

Dan, teman, apa yang terjadi ?!

Tiba-tiba seluruh indera manusiawiku bersorak-sorai karena ada terang yang datang merengkuh penuh kasih, melenyapkan segala artifisialisasi dan virtualisasi
ketiadaan sebagai kegelapan hutan-rimba.

Indera mataku menari-nari riang, menangkap warna-warni indahnya cahaya, mengajak tanganku memetik harum semerbaknya wangi beribu kembang yang mekar di taman depan rumahku;

dan, teman, tapak kaki-setiaku ternyata telah mencengkeram kokoh di bentangan lurus yang telah hadir kembali menjadi jalanku … kakiku, setiaku, dia meneteskan airmata haru dalam kegembiraannya

membawa tubuhku melangkah dan berlari-lari di jalan lurus itu — jalan kebenaran yang
Illahi, kebenaran yang sejati — tidak artifisial dan tidak virtual.
Tetapi, teman, jangan pergi dulu, daku belum selesai bercerita.

Ini ada cerita yang daku
ketik-ketik diilhami oleh kesetiaan Dante, si orang Italia berhati lembut tetapi tegas dalam
bersikap, yang rela dihukum mati karena kesetiaannya pada negeri Illahinya.
Teman, dalam bahagia kemenanganku atas kegelapan di jalan kebenaran, terdengar
kepak sayap garudaku yang meliuk-liukkan tubuhnya menerbangi angkasa di langit biru,
menari-nari indah tergambar hangat di bola mataku nan bening mengulum senyum.
Garudaku, direngkuhnya daku sekuat-hatinya dengan kuku-kukunya nan-kokoh, tajam
tak menyayat kulit, meletakkanku di punggungnya; ia menjemput daku, terbang di angkasa luas.

Dia mengajakku bergembira-ria, tetapi, teman, di salah satu puncak awan putih, seputih salju, dia berhenti, menurunkan daku dari punggungnya.

Daku heran, dan dia menatap tajam beradu-tatap dengan mataku, dan berkata tegas —

Lihatlah ke bawah,
kau lihat aku ada di sana juga, garudamu, Indonesiamu. Aku membawa kau menjelajah alam,
meloncat-loncat dari satu puncak awan putih ke puncak awan putih lain yang sedang berarak,
untuk menunjukkan bahwa tak ada bintang yang dapat melakukan seperti aku, sekalipun ada berjuta bintang di Barat sana.

Dan, bersamaku terbang ke angkasa luas, tiada palu dan arit di bumi sana yang dapat menghantam tubuhmu dan menebas lehermu, sekalipun ada berjuta palu dan arit dilayangkan kepadamu dari Utara sana.

Bersatu-setialah padaku agar keselamatan selalu dalam gemnggamanmu

Daku terpana, terkejut lagi, temanku, heh … parah nih orang ! Woi, mange wisa ko ?! …..

Ah, sabodo teuing, ya wes, beta sudah selesai cerita.(*)

 

Kupang 12 April 2020

Penulisa adalah  Politisi dan mantan Ketua DPD Partai Demokrat NTT

 

Komentar ANDA?

About Delegasi Online

Check Also

Covid-19 dan Pilkada Humanis

“Jadi problem jika bantuan tersebut justru bersumber dari anggaran negara dengan memanfaatkan kewenangan jabatan yang ...