Home / OPINI / Apresiasi ‘Hujan Berita’ Festival Lamaholot 2019
Sejumlah jurnalis, baik di Flotim, Maumere, Lembata, Kupang, Yogyakarta, dan Jakarta sedang meliput pembukaan Festival Lamaholot 2019, di Desa Bantala, Lewolema, Rabu, 11/09/2019. (Delegasi.Com/BBO)

Apresiasi ‘Hujan Berita’ Festival Lamaholot 2019

LARANTUKA, Delegasi.Com – Tak kurang dari 300 an buah berita yang tersajikan dari jari-jari para jurnalis, ‘pemburu berita’ baik cetak, televisi maupun online menjadi ‘hujan berita’ dalam helatan Festival Lamaholot 2019.

Hal ini mendapat apresiasi luar biasa dari Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur, Apolonia Kewa Ola Corebima, SE.M.Si, saat ditemui media dikediamannya, Desa Kiwangona, Senin, 16/09/2019, Pagi.

 

Beberapa Jurnalis yang terlibat langsung meliput Festival Lamaholot 2019 sejak dari Desa Bantala-Lewolema hingga Nusa Tadon Adonara. (Delegasi.Com/BBO)

 

“Terus terang, mewakili Bupati Flores Timur dan jajaran terkait lainnya, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang luar biasa terhadap teman-teman insan pers dan media yang telah dengan komitmen yang tinggi ikut berpartisipasi menyukseskan festival ini, melalui begitu banyak beritanya sejak sebelum pembukaan hingga pasca penutupan,”ujarnya.

Menurutnya, sukses dan begitu tingginya animo dan partisipasi masyarakat dalam festival inipun berkat pemberitaan yang begitu viral, baik melalui media online, cetak dan elektronik lainnya.

“Kami juga berharap, dukungan dan kerjasama ini terus berlanjut pada masa yang akan datang,”pungkasnya lagi.

Tak hanya meliput di beberapa lokasi hajatan Festival Lamaholot 2019, Tapi, Teman-teman Jurnalis pun mencari obyek wisata lainnya di Pulau Adonara untuk dipublish. Ini saat berada di Danau Kota Kaya, Desa Adonara, Minggu, 15/09/2019, Pagi. (Delegasi.Com/BBO)

 

Apolonia pada kesempatan itu menyampaikan permohonan maafnya kepada semua pihak, bilamana masih banyak kekurangan yang terjadi dan dialami dalam hajatan kali ini.

“Iyah, namanya sebuah hajatan, pasti ada kekurangan dan keterbatasan di sana-sini. Sekali lagi mohon dimaafkan dan dimaklumi,”sambungnya dengan penuh rendah hati.

Lebih jauh, Ia mengakui, jika tanpa peran media dan teman-teman jurnalis, tentu festival ini tak segaung hari ini.

Bahkan, Pihaknya siap berdiskusi dengan teman-teman media kapanpun, terkait masa depan pariwisata Flores Timur, khususnya berbagai ajang festival lainnya.

“Saya kira, sudah menjadi tugas kita bersama membangun Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur hari ini dan kedepan. Kami siap jika teman-teman media mau datang berdiskusi”.

“Sebab ujung dari semuanya ini adalah bagaimana kita membangun persaudaraan, kebersamaan, kejujuran dan kerendahan hati melalui event-event seni budaya menuju Flores Timur yang lebih maju dan sejahtera. Silahkan datang kapanpun. Kami selalu tunggu,”ajaknya.

Asal tahu saja, keterlibatan puluhan wartawan dari berbagai media dan begitu viralnya berbagai pemberitaan Festival Lamaholot 2019, boleh menjadi kabar gembira.

Paling tidak untuk Bupati-Wakil Bupati Flores Timur dan seluruh jajaran, DPRD Flores Timur dan juga masyarakat.

Pun, bagi Tim Indonesiana, Dirjen Pariwisata dan Kebudayaan hingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Pencapaian inipun berhasil mendongkrak popularitas ajang seni budaya Lamaholot-Flores Timur yang baru memasuki tahun ke 2 tersebut.

Tak pelak, partisipasi masyarakat, baik di Nubun Tawan, Lewolema maupun Nusa Tadon Adonara juga meningkat tajam, hingga ikut langsung menggerakan roda pasar sosial ekonomi warga.

Sebut saja di Desa Bantala, Lewolema, ada kain tenun yang laris terjual dengan harga Rp.5 juta. Lalu, omset jualan makanan-minuman hingga pernak-pernik lainpun meningkat tajam.

Sementara di Kiwangona, Jagung Titi, Masakan Bloma dan Kopi Adonara pun laris manis.

Bahkan, ada yang merogoh koceknya dari Rp1 juta hingga Rp3 juta rupiah untuk belanja.

Demikian pula, di Pantai Ina Burak dan malam penutupan di Desa Karing Lamalouk. Kopi Adonara, Minuman Jahe panas, Bakso, Nasi Goreng, Jagung Titi, Bloma, Kain Tenun sampai Pernak-pernik batok kelapa maupun hiasan kayu milik stand Orang Indonesia Adonara besutan Yamin Dosinaen, juga diserbu pengunjung.

“Namanya pariwisata itu sebuah investasi jangka panjang, maka butuh waktu.

Yang paling penting kita mulai dulu. Ibarat membangun rumah masa depan, maka iven dan festival ini adalah fondasinya,”tutup Apolonia, sekadar memberi catatan pinggirnya, terhadap pesan keramat orangtuanya, Prof.Dr Aloysius Duran Corebima saat pembukaan festival Nusa Tadon di Desa Kiwangona, Jumad, 14/09/2019, Malam.

Bahwa, festival ini harus punya tindaklanjut.

Jangan sekedar ceremonial belaka habiskan duit. Namun, mesti mampu membawa masyarakat ke masa depan yang lebih maju dan sejahtera. Amin!

//delegasi.(BBO)

Komentar ANDA?



About Delegasi Online

Check Also

Memupuk Sikap Antisipasi Bencana

“Kasus bencana badai Seroja yang meluluhlantahkan beberapa kabupaten/kota di NTT (5 April 2021) lalu bisa ...