Home / Hukrim / Dituduh ‘Hamba Uang’ Wartawan BeritaSatu Lapor Pemilik akun Facebook Donatus Nador ke Polres Manggarai
Wili Grasia bersama kuasa hukumnya saat berada di Mapolres Manggarai.//Foto: FloresEditorial.com

Dituduh ‘Hamba Uang’ Wartawan BeritaSatu Lapor Pemilik akun Facebook Donatus Nador ke Polres Manggarai

RUTENG, DELEGASI.COM –Wili Grasias, Wartawan media online Baritasatu.com melaporkan pemilik akun facebook atas nama Donatus Nador ke Polres Manggarai, Selasa (12/5/2020) 16:00 Wita.

Akun facebook atas nama Donatus Nador diadukan ke aparat kepolisian setempat lantaran diduga telah menghina Willi Grasias yang berprofesi sebagai wartawan.

Willi Gracias didampingi kuasa hukumnya Yeremias Odin S.H dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Manggarai Raya.

Kepada para wartawan, seperti dirilis FloresEditorial.com,  Wili Grasias mengaku merasa terhina oleh postingan pemilik akun facebook atas nama Donatus Nador. Willi menyebutkan, dirinya merasa terhina lantaran dalam akun tersebut Donatus Natur menyebut Willy Gracis sebagai wartawan hamba uang.

“Saya merasa sangat terpukul, terhina dan malu baik terhadap keluarga maupun terhadap masyarakat umum,” katanya.

Disaksikan Floreseditorial.com, Selasa (12/5/2020), berkas pengaduan telah diserahkan kepada Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Manggarai dan berkas tersebut diterima oleh Brigpol Christiyanto Arson Noni.

Sementara itu, Kuasa Hukum Willibrodus Grasias, Yeremias Odin S.H mengatakan, pemilik akun FB, Donatus Nador diduga telah melanggar Undang-Undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), sebagaimana dimaksud dalam pasal 27 ayat (3) jo pasal 45 ayat (3) Undang-Undang No.19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU No.11 tahun 2008 tentang ITE.

Berikut isi kutipan postingan pemilik akun atas nama Donatus Nador :

WARTAWAN HAMBA UANG
Dua hari lalu, tetiba saya dapat bel dari kampung. Dikabarkan 8 orang wartawan sudah ada di kampung dan sedang di rumah mau ketemu koordinator penolak pabrik/tambang. Saya tanya indentitas mereka. Dari media mana dan siapa mereka. Adik saya sebut salah satu, Willy Gracias. Tim 8 dipimpin WG. Tapi saya yakin, dari 8 orang itu, masih ada wartawan benaran yang tak mau melacuri profesi mulia pencari dan pengungkap kebenaran.
Tentang WG, saya teringat cerita teman saya, bahwa tulisannya belepotan. Tak bisa menulis. Tak tau SPOK (subjek predikat objek keterangan) dalam kalimat. Singkatnya, keluh temanku, mengedit tulisan WG perlu 3 hari. Astafirulah….kok jadi wartawan. Ya…selagi ada kesempatan. Kembali ke WG dan timnya. Saat dengar nama WG dan timnya, saya langsung tau siapa di belakangnya. Baik belakang dekat pun jauh. Saya juga langsung tau seperti apa tulisannya manti. Karena saya tau isi berita yg akan mereka tulis, saya tidak akan baca.
Sehari setelah mereka liput, berita keluar. Saya hanya lihat medianya apa saja. Ada florespost, ada kabarntt. Saya hanya baca judulnya. Benar2 sesuai pesanan. Istri saya penasaran. Dia mau baca, tapi saya bilang, dalam hati aja. Pada satu bagian berita, dia merasa lucu dan tertawa. Lalu saya minta dibacakan bagian yg lucu dari berita itu
.

Dalam beritanya itu dikatakan WG cs juga mampir ke sawah org luwuk. “Hanya tiga bidang sawah yg dikerjakan. Itupun buahnya tidak maksimal”. Begitu tulisan mereka. Inilah cara mereka mengangkat berita untuk memberikan gambaran bahwa lahan sawah ini sudah tak produktif. Karena itu tak layak utk dipertahankan selain dijual. Gambaran ini menyesatkan. Kembali ke WG. kalau saya kaitkan dengan cerita teman ttg WG, gambaran itu bukan kerja WG, tapi redaktur, atas arahan atasan dan atasan dikendali moneypiro. Seminggu sebelumnya, saya sudah dengar, media lokal banyak dibeli pemodal besar, tentu dalam rangka perang udara.
Wartawan, sejatinya punya mata hati yg bisa tembus pandang. Dia bisa melihat agenda besar apa di balik rencana pabrik semen. Dia caritau bahaya pabrik semen bagi warga. Dia caritau pabrik semen butuh tenaga trampil bukan petani. Wartawan sejatinya tau bahwa di mana2 warga selalu jadi korban.
Dengan pengetahuan itu, dia akan bela si korban bukan pemodal. Sayangnya, wartawan selalu tunduk pada uang dan mau jadi hamba uang. moga dari 8 org itu masih ada wartawan sejati. berita mereka, ibarat anggur terakhir pd pesta nika di Kana.

//delegasi(*/hermen jawa)

 

Komentar ANDA?



About Delegasi Online

Check Also

AMPAS Desak Polda NTT Segera Usut Rekaman Berbau SARA yang diduga Ketua DPRD Kota Kupang

KUPANG,DELEGASI.COM—Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pemuda Anti Sara (AMPAS) Kupang menggelar aksi demontrasi ...