Home / Pariwisata / Gawi, Tarian Toleransi dari Flores
Gawi
Seorang relawan asal Myanmar, May Oo Khine ikut menari Simo Imu, tarian jemput tamu di pintu gerbang perkampungan Anaranda, Desa Mautenda, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Senin (22/5/2017). Relawan dari delapan negara Asia Tenggara berada di desa itu untuk membangun fasilitas air minum bersih bersama dengan warga setempat.(KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR

Gawi, Tarian Toleransi dari Flores

Labuan Bajo, Delegasi.com – Pulau  Flores di Nusa Tenggara Timur memiliki beragam tarian khas daerah. Tarian-tarian khas daerah itu selalu mengangkat tema persaudaraan, persatuan, kebersamaan dan rasa kekeluargaan yang sangat mendalam.

Dirilis kompas.com, ada sembilan kabupaten di Flores yang memiliki keunikan dan kekhasan daerah masing-masing.

Dari ujung timur sampai ujung barat di pulau itu beraneka ragam atraksi budaya dengan karakter daerah masing masing.

Seperti di wilayah Manggarai Raya ada tarian Caci, Kabupaten Ngada ada tarian Jai, Kabupaten Ende ada tarian Gawi, Kabupaten Sikka ada tarian Hegong, Kabupaten Flores Timur ada tarian Hedung, Kabupaten Nagekeo ada tarian Tea Eku dan Kabupaten Lembata ada tarian Pedang.

Semua atraksi budaya itu selalu bernuansa kebersamaan, persaudaraan, kasih sayang, walaupun karakter budaya berbhinneka. Namun, persatuan dan kebersamaan selalu dijunjung tinggi dalam berbagai atraksi budaya.

Bahkan, atraksi budaya itu ada nuansa toleransi karena semua penari berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda bahkan agama yang berbeda. Ada pembauran dalam kebersamaan dengan atraksi budaya tersebut.

Salah satunya adalah tari Gawi. Ini merupakan tarian toleransi dari Flores. Tarian khas Suku Lio, Kabupaten Ende ini berbentuk lingkaran besar dan selalu diikuti oleh penari dari berbagai latar belakang suku, agama, ras, serta siapa saja.

Selama menari tidak ada perbedaan antar satu dengan yang lainnya. Semua terlibat dalam nuansa kebersamaan, persatuan dan kesatuan.

Senin, 22 Mei 2017 pagi, saat rombongan relawan Jebsen dan Jessen dari delapan negara Asia Tenggara itu tiba, warga Kampung Anaranda, Desa Mautenda, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende menyambut dengan tarian “Simo Imu” di gerbang masuk perkampungan Anaranda. Tarian dibawakan oleh siswa-siswi SDK Anaranda I.

Selanjutnya, rombongan relawan itu diantar sampai ke lapangan sepakbola di tengah kampung. Selanjutnya mereka disuguhkan tarian Gawi.

Hentakan kaki yang melingkar dengan diiringi musik khas tarian Gawi menggugah para relawan untuk bergabung menari dalam nuansa kebersamaan, keakraban, kegembiraan atas kehadiran mereka di tengah warga di kampung itu.

Berbaur bersama dengan menari yang berbentuk lingkaran meriuhkan suasana di kampung itu. Seluruh warga memadati lapangan sambil menyaksikan relawan Asia Tenggara itu menari.

Ibu-ibu, orangtua, laki-laki, anak-anak muda, dan siswa dan siswi SDK Anaranda dengan selendang khas Suku Lio Ende terus menari melingkar.

Satu per satu, siswa dan siswi SDK Anaranda itu menari untuk menjemput tamu yang sedang duduk dengan kain selendang agar bergabung dalam nuansa kebersamaan dalam tarian Gawi tersebut.

Kepala Sekolah SDK Anaranda I, Yohanes Soka kepada KompasTravel, menjelaskan, tarian Gawi merupakan tarian khas warga Suku Lio di Kabupaten Ende.

Siswa dan siswi dari SDK Anaranda I selalu menampilkan tarian Gawi apabila ada pergelaran budaya serta menyambut tamu yang berkunjung ke sekolah itu atau ke kampung Anaranda.

“Semua warga di Kabupaten Ende, baik yang tersebar di kota maupun di kampung-kampung selalu menampilkan tarian Gawi sebagai rasa kebersamaan, kekeluargaan, persatuan di antara sesama warga. Tarian ini juga sering ditampilkan dalam berbagai event pariwisata di Kabupaten Ende. Bahkan, tarian ini juga dibawakan pada pesta syukuran, pesta perkawinan di seluruh wilayah Pulau Flores,” kata Yohanes Soka.

Saat rombongan relawan tiba, lanjut Soka, ungkapan pertama untuk menyambut rombongan itu adalah menampilkan tarian Gawi.

Ini bentuk kegembiraan dari warga Desa Mautenda atas kunjungan para relawan dalam membangun fasilitas air minum bersih, pemasangan pipa serta pembangunan tugu kran serta kampanye cuci tangan yang baik dan bersih kepada siswa dan siswi SDK Anaranda I.

Kepala Desa Mautenda, Raimundus Rangga kepada KompasTravel, Kamis (25/5/2017) menjelaskan, setiap tamu yang berkunjung ke Desa Mautenda selalu disambut dengan tarian “Simo Imu”, tarian jemput tamu di pintu gerbang perkampungan. Selanjutnya ditampilkan tarian Gawi menjadi tarian khas Suku Lio.

“Tarian Gawi, warisan leluhur Suku Lio dengan makna persatuan, kegembiraan dan syukuran. Apabila ada upacara syukuran di kampung-kampung, warga selalu menari Gawi sebagai ungkapan sukac ita dan kegembiraan,” kata Raimundus.

Ferdinandus Watu, pegiat pariwisata Kabupaten Ende kepada KompasTravel, Selasa (6/6/2017) menjelaskan, makna Gawi sebagai tarian persatuan, simbol kebersamaan dan syukuran.

“Gawi dalam tradisi Suku Lio berbentuk seperti ular, melingkar sebagai ajakan kebersatuan, kita eratkan tangan, bulatkan tekad bersama,” katanya.

May Oo Khine, relawan asal Myanmar bersama 19 rekannya ikut gembira menari Gawi bersama warga Kampung Anaranda.

Bahkan saat dijemput di pintu gerbang Anaranda, semua relawan dari delapan negara Asia Tenggara ikut menari serta larut dalam menari Gawi.

“Kami sangat berterima kasih banyak atas penyambutan yang sangat meriah dengan atraksi-atraksi budaya. Kami semua gembira atas keramahan orang-orang Flores saat menyambut tamu,” ungkap relawan asal Singapura, Chwee Eng Tan.

Komentar ANDA?



About Delegasi Online

Check Also

Dispar Gelar Sosialisasi Standarisasi Keamanan Pelaksanaan Protokol Covid-19 Untuk Hotel dan Restoran

KUPANG, DELEGASI.COM– Dinas Pariwisata Kota Kupang melakukan Sosialisasi Standarisasi Keamanan Pelaksanaan Protokol Covid-19 yang akan ...