Home / Jendela Jiwa / Ibu Risma dan PRR: Dari Perspektif Dialog Lintas Agama

Ibu Risma dan PRR: Dari Perspektif Dialog Lintas Agama

Kerudung dan Jilbab, sama-sama berfungsi untuk menutupi rambut kepala, tanda ikatan bathin antara manusia dengan Tuhan, simbol penyerahan diri, pentahiran, perlindungan kehormatan dan kekudusan. Nilai-nilai spiritual ini bertemu dan berdialog dengan harmonis, sejuk dan damai. Itulah dialog lintas agama sejati

Oleh: Padre Marco, SVD

 

DELEGASI.COM – Ibu Risma memilih untuk menginap di dalam Biara Suster-suster Puteri Renya Rosari (PRR) daripada di dalam sebuah kamar Hotel di kota Larantuka, Flores Timur, NTT, ketika melakukan kunjungan kerja ke wilayah-wilayah tertimpa bencana badai dan banjir bandang baru-baru ini.

Ibu Risma melakukan sebuah contoh hidup bersama lintas agama yang sangat inspiratip. Beliau datang tidak hanya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Menteri Negara dan membantu secara materi, tetapi juga membangun dialog lintas agama.

Menurut saya, hal ini menarik untuk didalami. Di sini saya melihat beberapa hal sebagai beriikut:

Pertama: Ibu Risma melakukan Dialog Kehidupan (Dialogue of Life) secara nyata. Di depan penderitaan kemanusiaan, kita semua sama rapuhnya, siapapun dia. Pengalaman ini harus diakui dan dialami oleh semua orang sebagai starting point yang penting.

Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini ketika berada di Sumatera Putra putri Renha Rosari
(PRR)-di Lebao Flores Timur //Foto: ISTIMEWA

 

Untuk itu, tidak ada jalan lain selain bersolidaritas satu sama lain; hari ini giliranku; mungkin besok giliranmu; harus bersatu dalam semangat persaudaraan dan persahabatan utk bekerjasama mengatasi berbagai masalah hidup ini. Bagian terakhir ini adalah bentuk Dialog Kerjasama (Dialogue of Collaboration) yang juga sudah selalu dicanangkan oleh Gereja Katolik.

Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini ketika berada di Sumatera Putra putri Renha Rosari
(PRR)-di Lebao Flores Timur //Foto: ISTIMEWA

Kedua: Perbedaan-perbedaan lahiriah (jilbab dan kerudung biara) adalah simbol-simbol luar keagamaan yang harus membawa pesan tertentu. Pesan itu adalah pesan moral yang luhur dan mulia dari perspektip agama masing-masing, yang mendamaikan, yang menyegarkan, yang menyejukan dan merangkul, yang menyenangkan dan membahagiakan, yang mengubah air mata menjadi tawaria.

Ketika nilai-nilai luhur dan mulia itu dihidupkan secara nyata di dalam kebersamaan ini, tidak ada lagi rasa takut, prasangka dan tidak ada lagi jurang pemisah di antara manusia beda agama, karena pesan kehidupan sejatinya jauh lebih kuat daripada unsur-unsur yang meruntuhkan dan merusakan kehidupan bersama.

Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini ketika berada di Sumatera Putra putri Renha Rosari
(PRR)-di Lebao Flores Timur //Foto: ISTIMEWA

 

Ketiga: Ibu Risma dan para Suster PRR melakukan Dialog Spiritualitas (Dialogue of Spirituality) yang nyata dan indah. Ibu Menteri Sosial beragama Islam ini masuk ke dalam sebuah Biara Katolik, melihat dan merasakan roh kekatolikan kental melalui berbagai patung, gambar kudus dan Kapela yang menjadi jantung kehidupan membiara. Beliau harus merasa nyaman dan biasa dengan pemandangan dan situasi seperti itu dan harus bisa tidur nyenyak di dalam sebuah kamar biara Katolik.

Di lain pihak, para Suster mula-mula menyambut beliau dengan sebuah nyanyian khas Kristiani dan menciptakan ruangan serta suasana hospitalitas yang indah, natural dan nyaman untuk Ibu Risma. Atribut-atribut keagamaan mereka tetap mereka pertahankan karena merupakan bagian dari identitas keagamaan mereka. Kerudung dan Jilbab, sama-sama berfungsi untuk menutupi rambut kepala, tanda ikatan bathin antara manusia dengan Tuhan, simbol penyerahan diri, pentahiran, perlindungan kehormatan dan kekudusan.

Nilai-nilai spiritual ini bertemu dan berdialog dengan harmonis, sejuk dan damai. Itulah dialog lintas agama sejati. Bukan berarti orang harus menyembunyikan identitas keagamaannya ketika bertemu dengan umat beragama lain. Justru di dalam keberagaman dan perbedaan ini kita bertemu agar saling memperkaya.
Berhadapan dengan berbagai bencana dan ancaman perpecahan bangsa, semangat, cara pikir, cara pandang dan mentalitas inilah yang harus lebih dikedepankan dan dibudayakan.

Ibu Risma telah memutuskan yang terbaik, yang tidak bisa diambil daripadanya, tetapi sebaliknya beliau justru lebih banyak memberi dari keputusan ini. Mungkin bisa dibahasakan kekayaan yang ditinggalkan Ibu Risma ini dengan pepatah: Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali berkunjung, banyak nilai indah ditaburi.

Mudah-mudahan contoh bagus ini menginspirasi banyak orang menuju Indonesia, rumah kita bersama, yang semakin rukun, aman, nyaman dan damai, di mana perbedaan-perbedaan luar bukan menjadi masalah. (*)

Penulis adalah staff pada Dewan Kepausan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama, Desk Dialog Katolik-Islam di Asia dan Pasifik, di Vatikan.

Komentar ANDA?



About Delegasi Online

Check Also

Wai Jara, Sumber  Mendamaikan Sekaligus Malapetaka

“Wai Jara merupakan sumber air satu-satunya di puncak Ile Boleng, berada di bagian timur Riawale, ...