Home / Nasional / Ketua Fraksi Demokrat MPRI RI BKH Menerima Natalis Pigai Terkait Otonomi Khusus Papua
Foto : ISTIMEWA

Ketua Fraksi Demokrat MPRI RI BKH Menerima Natalis Pigai Terkait Otonomi Khusus Papua

KUPANG-DELEGASI.COM– Aktivis Natalis Pigai bertemu dengan Ketua Fraks Demokrat MPR RI, Dr. Benny K. Harman, SH. Mereka mendiskusikan banyak hal terkiat kondisi bangsa dan negara terkini termasuk Otonomi Khusus Papua di Kompleks Senayan, Senin, (15 /2/2021).

Dalam pandangan Pigai, Undang-undang Otonomi khusus (otsus) Papua No. 21 tahun 2021 telah berlangsung selama 20 tahun. Namun dalam implementasinya belum efektif dan efisien. Karena itu menurut Pigai, berkaitan dengan berakhirnya pemberlakuan undang-undang otsus, rakyat Papua menolak secara tegas untuk melanjutkan kebijakan otsus Papua tersebut.

Baca Juga :

Pasang Papan di Rumah Nasabah, BPR Bina Usaha Dana Jangan Bergaya Rentenir

Ricky Leo Merasa Ditindas BPR Bina Usaha Dana Flotim

Menurut Pigai, melanjutkan status otonomi khusus Papua, dan pembentukan daerah otonomi baru (DOB) di Papua serta kebijakan turunan terkait lainnya bukan lagi kebijakan yang perlu untuk dilaksanakan oleh pemerintah dalam waktu-waktu ke depan.

“Kebijakan seperti Itu sudah tidak relevan pada era modern di Papua.Kami merekomendasikan kepada Bapak Presiden Ir. Joko Widodo untuk membekukan pelaksanaan UU otsus Papua No.21 tahun 2001 pada tahun 2021 ini sebelum melakukan perundingan dengan rakyat Papua. Sebelum perundingan itu dilaksanakan, pemerintah dapat mengeluarkan Perppu terkait Papua,” ujar mantan anggota komisioner Komnas HAM tersebut.

Karena itu Pigai sangat mengharapkan agar pemerintah dapat mengadakan perundingan dengan masyarakat Papua.

“Perundingan itu bisa dilaksanakan mulai sekarang sampai tahun 2024. Hasil perundingan akan menentukan status Papua selanjutnya,” demikian menurut Pigai. (**)

Komentar ANDA?



About Delegasi Online

Check Also

Angka Stunting Masih Tinggi, Gubernur NTT : Kerja Kita Belum Maksimal

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat, mengatakan, jika penurunan kasus stunting di NTT biasa-biasa saja, itu berarti kerja kita kurang maksimal. Sebab, yang kita bicarakan adalah menyangkut nyawa manusia