Home / Sosbud / Ketulusan Nenek Monika Sumbang 100 Ribu Buat BKH
Benny K. Harman dan Nenek Monika saling berpelukan

Ketulusan Nenek Monika Sumbang 100 Ribu Buat BKH

Borong, Delegasi.com – Benny K. Harman sangat terharu saat Monika Idik, nenek tua rentah berusia 70 tahun  menyerahakan selembar uang sebagai bentuk dukunganya terhadap paket nomor urut 3 itu ketika BKH dan rombongan mengunjungi kampung Poeng, Manggarai Timur, Jumat (27/4/2018).

Saat berjabatangan dengan BKH, Nenek Monika langsung memeluknya cukup lama. Nenek Monika tidak langsung kembali ke tempat duduknya.

Dia merogoh sesuatu dari sakunya lalu diselip ke saku baju BKH. Ternyata Nenek ini memberikan pecahan Rp100 ribu untuk BKH.

“Pa neka lelo koen seng hoo. Hoo seng wuat wai latang ite. Kudut molor keta du ngom, lomes du kolen) (Pak Benny jangan lihat nilainya. Ini bentuk dukungan dan doa kami agar pa Benny berhasil,” kata Nenek Monika kepada BKH.

Selain Nenek Monika, para ibu ibu dikampung itu juga memeluk BKH secara antri.

Begitu juga dengan Katarina Mambu (55), menggegam tangan sambil memeluk BKH lalu kembali ke tempat duduknya.

BKH sendiri tampak terharu. Matanya berkaca-kaca mendengar ucapan nenek ini.

Lazimnya pemberian seperti ini datang dari kandidat yang gemar bagi-bagi uang.

“Terima kasih mama, kalau saya menang saya akan kembali lagi ke kampung ini siap bangun petani NTT” kata BKH sambil mencium kening nenek Monika.

Foto: Moment ketika nenek Monika dicium BKH usai memberikan uang wujud dukungan.

 

Tokoh Manggarai yang juga menjadi tim sukes Harmoni, Martinus Nahas mengatakan pemberian uang kepada kandidat adalah bentuk doa dan dukungan. Dalam budaya Manggarai ini disebut Wuat Wai.

Dalam konteks politik, demikian Nahas, pemberian uang doa dan dukungan seperti ini jarang terjadi. Namun bisa dibenarkan karena kandidat sama seperti seorang anak yang merantau membutuhkan dukungan.

“Ini uang wuat wai. Nilai dan budaya dalam diri seorang nenek masih kuat terjaga” pungkasnya.

Dalam konteks politik, dukungan riil seperti sarat makna simbolik.

“Ini merupakan simbol dukungan. Maknanya sangat dalam yakni kandidat yang bersangkutan harus mampu memperjuangkan kepentingan rakyat. Kandidat yang didukung adalah mandat kepentingan rakyat. Itu tujuan demokrasi sesungguhnya” jelas Nahas.

Foto: BKH saat memaparkan visi misi Harmoni di halaman kampung Poeng

 

Selain itu, Nenek ini sesungguhnya sedang menasehati kita agar jangan menerima politik uang.

“Praktek jual beli suara telah merusak tatanan demokrasi.

Yang banyak uang jadi pemimpin sementara yang punya integritas dan keikhlasan disingkirkan,” ketua Ikatan Keluarga Manggarai Raya (IKMR) Kupang ini.

 

Foto: Rombongan Harmoni saat disambut masyarakat Poeng

BKH berorasi tepat di tangga masuk rumah adat Poeng atau dalam bahasa setempat disebut Mbaru Gendang.

Sementara tua-tua adat duduk berjejer rapi di belakang dan samping BKH.// delegasi (tim/juan pesau)

 

Editor: Hermen Jawa

 

Komentar ANDA?



About Delegasi Online

Check Also

Jenazah Nikson Tanu, PMI dari Malaysia dipulangkan ke TTS

KUPANG, DELEGSI.COM- Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Kupang mencatat satu ...