Lima Orang “Kuliti” Merah Putih Tergadai di Perbatasan

Kupang
Merah Putih Tergadai di Perbatasan

Kupang, Delegasi.Com– Lima orang narasumber “menguliti” buku “Merah Putih Tergadai di Perbatasan” karya Winston Neil Rondo (Anggota DPRD NTT dari Fraksi Partai Demokrat) dan Jemmy Setiawan di Kupang, Jumat (27/10).

Lima narasumber yang tampil dalam acara bedah dan launching buku tersebut yang dimoderatori Pius Rengka yakni Herman Heri (Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan), Farry Djemi Francis (Ketua Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra), Marius Ardu Jelamu (Kepala Dinas Pariwisata NTT), David Pandie (Dosen Undana Kupang) dan Dion DB Putra (Pemred Pos Kupang).

Herman Heri mengatakan, buku yang dibedah dan dilaunching ini merupaksn tamparan keras bagi semua pihak baik di eksekutif maupun legislatif baik di pusat maupun di daerah.

Ia menyampaikan, berbicara pembangunan di wilayah perbatasan, pemekaran wilayah menjadi solusi dalam pemerataan pembangunan.”Tujuan pemekaran wilayah adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan kepentingan elit dan kroni- kroninya,” tandas Herman Heri.

Farry Francis menjelaskan, prioritas pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan dalam Pemerintaham Jokowi- JK, yaitu infrastruk harus bisa mendukung peningkatan pangan di wilayah perbatasan. Pembanguan infrastruktur harus berprioritas di wilayah terdepan,terluar di perbatasan.

“Pembangunan tol laut juga menjadi prioritas sebagai infrasruktur di wilayah perbatasan,” kata Farry.

Farry menyatakan, dirinya turut bangga ada seorang politisi seperti Winston Neil Rondo (Anggota DPRD NTT dari Fraksi Partai Demokrat) mampu mengaktualisasi intelektualitasnya.

Farry mengaku, dirinya pernah melakukan beberapa aktivitas politik yang difokuskan di daerah perbatasan, misalnya sekolah Bola Kaki. Hal kecil ini dilakukan dengan niat untuk membangun daerah perbatasan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Marius Ardu Jelamu mengatakan, isu perbatasan yang diangkat dalam bukunya Winston Neil Rondo dan Jemmy Setiawan adalah refleksi orang muda terhadap realitas perbatasan untuk mengingatkan semua pihak khususnya pemerintah agar lebih fokus lagi mengurus perbatasan.

“Memang kondisi perbatasan tidak jauh berbeda dengan keadaan yang terjadi di wilayah tengah provinsi ini,” papar Marius.

Moderator Pius Rengka menyimpulkan, buku yang baru saja dibedah ini berhasil menggugah semua dimensi ilmu. Winston Neil Rondo dan Jemmy Setiawan mampu memancing semua orang untuk berbicara tentang ekonomi, politik dan kebudayaan untuk melihat isu ini.//Delegasi (juan)

Komentar ANDA?