Literasi Media Sosial dan Partai Politik

“Perubahan tersebut disebabkan oleh karakteristik media online. Tak terbatas ruang, real time dan fleksibel, kecepatan, cakupan yang sangat luas, aktual, dan langsung dapat berinteraksi. Dapat diakses oleh siapa saja bahkan di daerah yang mungkin saja tidak terjangkau oleh informasi,”

Antonius Ratu Gah

Kepala Badan Komunikasi Strategis DPD Partai Demokrat NTT

 

Kemajuan teknologi digital yang makin hari makin canggih mempengaruhi dunia politik. Ini dibuktikan pengaruh kehadiran media sosial yang menjadikan dunia maya sekaligus ruang publik.

Semuanya ada di sana, pemerintah, politisi dan publik selalu berinteraksi secara virtual tetapi real.

Tentu saja medsos menjadi pilihan lantaran lebih murah, praktis dan semuanya bisa dilakukan hanya lewat handphone atau smartphone.

Lewat smartphone bisa digunakan menonton film dan sinetron, mengirim e-mail, memotret, merekam suara, membuat video dan membaca surat kabar online, selain untuk menelepon dan mengirim sms.

Bahkan hari ini medsos bisa merubah dan mengatur selera makan seseorang. Mau order makan siang lihat ada salah satu gerai makan diskon 50% langsung merubah keputusan sebelumnya. Semua kemudahan yang ditawarkan menimbulkan perubahan-perubahan di masyarakat.

BACA JUGA: 

Konsolidasi Partai Demokrat NTT, Hidupkan Mesin Partai untuk Pemenangan Pemilu 2024

Ketua DPD Demokrat Leonardus Lelo Siap Maju Calon Gubernur NTT 2024

Perubahan tersebut disebabkan oleh karakteristik media online. Tak terbatas ruang, real time dan fleksibel, kecepatan, cakupan yang sangat luas, aktual, dan langsung dapat berinteraksi. Dapat diakses oleh siapa saja bahkan di daerah yang mungkin saja tidak terjangkau oleh informasi.

Melihat karakteristik media online, adakah hal yang perlu diperhatikan? Literasi media jawaban tepatnya.

Secara sederhana, literasi media didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan yang membutuhkan seperangkat perspektif yang kita gunakan secara aktif untuk mengekspos diri kita ke media untuk menafsirkan makna dari pesan yang kita terima.

Jadi jangan asal cuap cuap atau sembarangan posting di medsos, karena dari postingan semua orang dapat menilai siapa anda sebenarnya.

Begitu juga dengan partai politik, dipandang penting harus mempunyai pedoman etika di media sosial, supaya masyarakat dapat dilindungi dari praktik penyalahgunaan kebebasan berpendapat dan berekspresi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, yang hanya mementingkan propaganda tanpa berhitung dampak yang terjadi.

BACA JUGA:

BKH: Kalau Boleh Cukup Saya yang Dimaki-Maki, Jangan Ketum Kami

Konsolidasi Partai Demokrat NTT, Satukan Kekuatan Rebut Kekuasaan

Sehingga, penyampaian pesan politik di media sosial menggunakan cara kreatif dan menghibur dipandang mampu menyalurkan informasi politik dengan baik serta menumbuhkan minat dan literasi politiknya.

Demokrat Partai terpopuler di medsos

Saat ini Partai Demokrat memuncaki daftar popularitas di jagat dunai maya. Lembaga riset Evello merilis hasil riset popularitas parpol berdasarkan jumlah tayangan di Instagram dengan 17.039 unggahan video Instagram, sejak 1 Oktober 2021 sampai dengan 23 januari 2022. Demokrat berhasil memanen 8.568.221 views yang presentasenya mencapai 28.98%.

“Evello menyimpulkan ternyata tidak semua parpol mempunyai literasi yang cukup untuk mengarungi disrupsi digital,”

Selamat Hari Pers Nasional, tak ada demokrasi tanpa kebebasan pers, dan tak akan ada kebebasan pers tanpa demokrasi.***

 

 

Komentar ANDA?