Home / OPINI / Menikmati Matahari Senja dan Rembulan di Pantai Lewotobi
Matahari Sore dilihat dari Pantai Lewotobi, Minggu, 05 Juli 2020.//Delegasi.(BBO)

Menikmati Matahari Senja dan Rembulan di Pantai Lewotobi

LARANTUKA, DELEGASI.COM – Mungkin terlihat sepintas, dan bisa dibilang hal biasa saja. Namun, sinar matahari hingga terang rembulan pada Minggu, 5 Juli 2020, sore dan malam, saat disaksikan dari Pantai Wai Bele-Desa Lewotobi, Ile Bura jelas memantulkan daya tarik yang indah memanjakan mata dan meneduh hati, pula jiwa serta pikiran sejenak.

 

Bahkan, cukup memberi pesan spirit, akan sebuah pesona alam pantai yang luar biasa serta boleh menjadi obyek panorama wisata pantai yang indah, dikala sore hingga jelang malam hari.

Apalagi, pada saat yang bersamaan air laut pun sedang surut, dan memantik banyak warga, dari anak-anak hingga dewasa sekitar Lewotobi, yang spontan turun berkarang mencari ikan buat santap malam penuh gizi, ciptakan generasi unggul.

Rembulan malam yang indah pada Minggu, 5 Juli 2020 di Pantai Lewotobi.//Foto: Delegasi.com (BBO)

 

Sebagaimana dendang ‘gerobak cinta’ yang lagi menjadi hitz Pemda Flotim saat ini menggempur stunting bersama para Kader Posyandu, Tenaga Kesehatan dan unsur terkait lainnya.

Betapa tidak, sebagaimana yang diabadikan lensa Delegasi.Com, saat Matahari Sore yang perlahan jatuh turun menyentuh kaki langit di ujung barat selatan Pulau Solor, terus menyentuh kanvas laut Sawu, dan pergi, lalu selepas jedah waktu menuju pukul 19.00 Wita saat malam tiba, munculah rembulan persis di titik koordinat yang hampir sama, menebar cahaya terang di atas laut, seperti membentangi sebuah jalan raya terang baru.

Membangkitkan harapan baru agenda selamatkan laut.

Untuk diketahui, kawasan Pantai Lewotobi, sejak tahun 2017 telah dijadikan kawasan konservasi terumbu karang dan penyuh yang dibiayai Dana Desa Lewotobi, dibawah sentuhan tangan dingin Sang Kades Tarsisius Buto Muda.

Namun, sayangnya program kegiatan ini belum dioptimalisasi menjadi kawasan ekowisata pantai hingga saat ini karena keterbatasan kemampuan keuangan desa.

Pun, nihilnya topangan APBD Kabupaten Flotim.

Entah melalui Dinas Pariwisata, maupun Dinas Perikanan dan Kelautan.

Padahal, kawasan pantai maupun perairan di Lewotobi sangat kaya ikan dan biota laut lainnya.

Dimana, hampir setiap malam, kawasan ini dipenuhi lampu kapal motor perahu pencari ikan.

Ibarat sebuah Kota Terapung di tengah laut.

Namun apesnya, hasil tangkapan ikan dikawasan perairan ini,lebih banyak dibawa keluar daerah.

Hanya sedikit yang dilepas ke para pembakul ikan untuk dijual ke warga, dan praktis membikin harga ikan di Lewotobi, tetap saja mahal.

Bayangkan saja, walau rumah warga dengan pantai hanya berjarak 3 sampai 4 meter saja, tapi ikan yang dijual rata-rata 5 sampai 6 ekor ikan jenis tembang, kelodo dan sejenisnya dipatok hingga Rp.10.000.

Hal yang sangat membebani ekonomi warga bila tiap hari harus belanja ikan untuk asupan gizi keluarga menggempur stunting.

Padahal, jikalau kawasan laut Lewotobi ini betul-betul dijadikan sebagai urat nadi perekonomian, maka sudah tentu sangat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Lewotobi, maupun Ile Bura pada umumnya.

Plus bisa melenyapkan angka stunting di wilayah ini.

“Iyah susah, kalau tiap hari harus beli ikan seperti ini untuk konsumsi keluarga. Apalagi, untuk urusan gempur stunting bersama gerobak cinta.

Masah, hanya mau makan sorgum dan kelor saja terus. Kan, bosan juga. Mau makan ikan terus juga mahal dan hanya tembang dan kelodo terus, yah kapan gizinya naik,”gerutu beberapa warga yang enggan ditulis identitasnya.

Pantauan Delegasi.Com, sejak beberapa pekan ini, gerakan gempur stunting di wilayah Ile Bura, bersama Gerobak Cinta, cukup vulgar dilakukan pasca dideklarasikan serentak, meski masih ditengah ancaman pandemi Covid-19.

Bahkan, para Kader Posyandu pun terus terlihat sibuk mengantar asupan gizi bagi bayi balita yang divonis stunting.

Entah sampai kapan stunting ini berhenti digempur di wilayah Lewotobi, maupun desa-desa lainnya di Ile Bura belum bisa diprediksi.

Apalagi, kalau kualitas dan mahalnya harga ikan untuk konsumsi rumah tangga pun belum bisa diselamatkan.

Tentunya, diharapkan agar dinas terkait, seperti Perikanan dan Kelautan, serta Pariwisata semakin serius memberikan perhatian, untuk ikut langsung menggerakan potensi laut dan kawasan pantai di wilayah ini sebagai urat nadi perekonomian yang baru. Semoga!  //delegasi (BBO)

Komentar ANDA?



About Delegasi Online

Check Also

Memupuk Sikap Antisipasi Bencana

“Kasus bencana badai Seroja yang meluluhlantahkan beberapa kabupaten/kota di NTT (5 April 2021) lalu bisa ...