Home / OPINI / Minggu Palma di Tengah Badai Corona; Pemimpin Itu Harus Siap Menderita
Beginilah suasana ibadah Minggu Palma, 05 April 2020 di Paroki St.Yosef, Stasi St.Fransiskus Xaverius-Lewotobi, Ile Bura, yang dilaksanakan di rumah warga, ditengah ancaman Virus Corona. Tanpa daun Palma dan Umat mengikutinya dari rumah masing-masing. (Delegasi.Com/BBO)

Minggu Palma di Tengah Badai Corona; Pemimpin Itu Harus Siap Menderita

 

LARANTUKA, DELEGASI.COM – Pemimpin yang hanya mau dilayani, disanjung. Dijemput dengan iring-iringan kendaraan mewah dan pawai manusia, tarian di setiap pintu gerbang saat kunjungan, bahkan harus menelan biaya yang tak sedikit, sesungguhnya tak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan perayaan saat kedatangan Sang Raja Damai, Yesus Kristus di Kota Daud Yerusalem, yang dirayakan hari ini Minggu, 05 April 2020.

Walaupun, Yesus sendiri harus membutuhkan pertolongan seekor Keledai, saat masuk Kota Yerusalem,”demikian pesan penting yang disampaikan Tarisisius Buto Muda saat membawa renungan pada perayaan Minggu Palma, 05/04/2020, di Paroki St.Yosef, Stasi St.Fransiskus Xaverius, Lewotobi.

Meskipun, perayaan kali ini tanpa daun palma dan perarakan menuju Gereja karena masih tertutup sejak badai virus Corona, dan harus dilakukan dari rumah warga dengan pengeras suara, lalu umat mengikutinya dari rumah masing-masing namun tetap berjalan hikmad.

Dikatakannya, walaupun Yesus datang tanpa persiapan acara protokol yang ketat dan butuh waktu berhari-hari serta biaya yang banyak untuk menjemputNya, tetapi betapa semua orang begitu mengeluh-eluhkan Dia sebagai Sang Raja Damai dengan meneriakan Hosanna..Hosanna Putera Daud.

“Inilah yang membedakan Yesus Kristus sebagai Pemimpin Agung yang tetap setia dan taat melayani, dengan kebanyakan pemimpin kita dewasa ini yang selalu butuh dihargai dan dilayani, namun takut menderita,”katanya.

Padahal, Bagi Yesus yang terpenting adalah melaksanakan kehendak BapaNya, taat dan setia.

“Itu artinya, Yesus membutuhkan hati kita, hidup kita, diri kita dan keluarga kita untuk tetap setia dan taat tinggal bersamaNya. Tidak takut dan lari dariNya.

Kita hendaknya membuka hati Kita dan membiarkan hati kita agar boleh masuk dan tinggal bersamaNya dalam sukacita kegembiraan, tetapi juga dalam derita dan duka yang kita alami,”katanya lagi.

Lebih jauh, Asis Muda dalam homilinya menerangkan, dalam.bacaan pertama, Nabi Yesaya juga melukiskan tentang hamba yang taat menderita, dimana karena kepasrahan pada Allah dan cinta akan manusia, memberanikan Yesus untuk memilih jalan pahit.

Dimana, Yesus yakin dan percaya, bahwa tugas perutusanNya tidak akan sia-sia.

“Pesan bagi kita dijaman ini adalah bahwa mungkin kita sangat sulit menghargai sebuah pelayanan.

Ada sekian banyak pelayanan yang tidak dihargai, tidak diterima bahkan mungkin ditolak.

Tetapi, Yesus tetap mau menjadi hamba yang setia dan hamba yang menderita,”pungkasnya, lagi.

Selain itu, Asis Muda dalam pesannya mengatakan, Rasul Paulus kepada umatnya di Filipi, mengutip mada yang biasa digunakan dalam ibadah untuk memuji keagungan Yesus Kristus dalam pelayanannya mengungkapkan, betapa besar pelayanan Yesus sebagai manusia dengan menyerahkan hidupnya sendiri.

“Disini, Rasul Paulus mengajak supaya kita memiliki perasaan hati seperti Yesus yang hidup dengan kerendahan hati, cinta dan kerukunan satu sama lain.

Dimana, penyerahan diri Yesus itu berkenaan bagi Allah dan membuka suatu mutu kehidupan secara imanen.

Dan, kematian Yesus adalah titik balik kehidupan,”tegasnya.

“Dan, Bapa Allah yang berkuasa atas kehidupan kita menerima kematian Yesus sebagai persembahan yang sungguh berkenaan,”imbuhnya, lebih dalam.

Karena itu, diharapkan kita mempunyai kerelaan dan keberanian untuk melayani Allah dan sesama dengan tulus dan ikhlas.

Asis Muda yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Lewotobi 2 periode itu, lantas memberikan beberapa pertanyaan kritis dan reflektifnya.

“Apakah, kita sudah siap menyambut kedatangan Yesus seperti Kota Yerusalem?

Apakah kita malu mengakui kekurangan dan kelemahan kita, dan meminta bantuan sesama untuk menolong kita?

Apakah ketika orang lain dalam keadaan susah dan membutuhkan pertolongan kita seperti Yesus membutuhkan seekor Keledai, lalu apakah kita dengan senang hati memberikan pertolongan?

Apakah kita mudah berubah seperti orang Yahudi, yang hari ini bersuara keras memuji Yesus di gerbang Yerusalem dan tak lama berselang tidak mau membela Yesus dihadapan Pilatus?

Apakah kita ingin berbuat baik agar kita dikenal orang atau ingin mencari nama besar?

Apakah kita juga seperti orang Yahudi yang lebih memilih kematian dengan meneriakan Barabas seorang pembunuh dan pemberontak daripada Yesus Sang Raja Damai?

“Semoga perayaan hari ini mengenang Yesus masuk Kota Yerusalem semakin meneguhkan Iman kita akan Yesus yang rela mati dan wafat di salib bagi kita. Amin,”tutupnya.

Pada ibadah Minggu Palma mengenang Yesus masuk Kota Yerusalem ini pula, Umat Stasi Lewotobi berdoa khusus agar kedatangan Yesus Sang Raja Damai ini menyelamatkan dan membebaskan dunia dari ancaman virus Corona.

//delegasi(BBO)

Komentar ANDA?



About Delegasi Online

Check Also

Memupuk Sikap Antisipasi Bencana

“Kasus bencana badai Seroja yang meluluhlantahkan beberapa kabupaten/kota di NTT (5 April 2021) lalu bisa ...