google-site-verification=DqeGIBnXUYs0HKVFvHdBfmKMQ2Rf18FTXisPMPCrO2Q

Padre Marco,SVD: Terowongan Mesjid Istiqlal-Katedral Jakarta, Sebuah Jalan Panjang Toleransi

  • Bagikan
Inilah salah satu momentum dan peristiwa di saat Padre Marco Solo Kewuta,SVD bertemu dan menjalin persahabatan dengan sesama saudara tokoh-tokoh Muslim didunia, dalam tugasnya. (PM/Delegasi.Com/BBO)

VATIKAN-DELEGASI.COM– Rampungnya Terowongan yang menghubungkan Mesjid Istiqlal ke Katedral Jakarta, dan telah dilalui Wakil Presiden Republik Indonesia, Ma’ruf Amin beberapa waktu lalu, ikut mendapat atensi dan tanggapan sangat positip dari Anggota Dewan Penasehat Kepausan, Padre Markus Solo Kewuta,SVD.

Pastor asal Indonesia, yang kini berkedudukan di Tahta Suci Vatikan, yang bertugas menangani Dialog Kerukunan Antar Umat Beragama se Dunia, khususnya Desk Islam Asia-Pasific ini, menyebutnya sebagai salah satu karya yang unik, yang belum pernah ada di seluruh dunia.

“Ini membuka jalan untuk sebuah perjalanan panjang.

Sebab, barang siapa membangun tembok, Dia sendiri akan terkurung di dalam tembok itu.

Mari, terus membangun terowongan dan jembatan, bukan ghetto atau tembok pemisah.

Kita butuh terowongan dan jembatan, bukan tembok pemisah,”nukil Padre Marco,SVD, sapaan khas Pastor Markus Solo Kewuta,SVD, yang dilansir Media, mengutip pernyataan Paus Fransiskus, ketika bercakap-cakap dengan para Wartawan di dalam pesawat, setelah kunjungannya ke Maroko bulan Maret 2019, sebagaimana ikut dikirim ke Redaksi Delegasi. Com, beberapa waktu lalu.

“Saya merasa sangat terkesan dengan inisiatif luar biasa dari pemuka Islam dan Katolik, terkhusus dari Mesjid Istiqlal dan Katedral Jakarta, yang sudah bekerja dengan keras dan akhirnya sukses membangun terowongan tersebut.

Pada tempat pertama dan utama, Saya sangat mengapresiasi upaya unik dan luar biasa ini.

Hemat Saya, ini bukan sekadar lubang di bawah tanah, yang memberikan kemungkinan untuk berjalan dari satu titik ke titik yang lain, tetapi sebuah simbol yang berbicara lebih dari seribu kata, ibarat sebuah gambar,”ujar Padre Marco, SVD.

Ia bahkan memberi tekanan dan menjelaskan secara lebih dalam, tajam serta tuntas terhadap dibangunnya terowongan itu.

Ada lima (5) point penting sebagai benang merah, yang disampaikan Padre Marco,SVD.

Pertama: Terowongan itu tidak lain dan tidak bukan, adalah sebuah jalan.

Jalan membuka kesempatan untuk pertemuan timbal balik dan memudahkan dialog.
Dengan membangun terowongan ini, kedua belah pihak ingin mengintensifkan relasi timbal balik antar keduanya.

“Membuka lebih banyak kesempatan untuk saling berjumpa dan berdialog,”tegasnya.

Kedua: Ini sekaligus menyiratkan pesan bahwa dialog lintas agama atau relasi antar umat Islam dan umat Katolik (Kristiani) di Indonesia tidak semata-mata terpaku atau terikat pada metode-metode klasik yang statis atau tidak bergerak dan tidak bisa menembus batas-batas ketakmungkinan.

Ketiga: Di dalam Spirit Dokumen Abu Dhabi, yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar al-Azhar, Ahmed al-Tayeb 2019, terowongan ini adalah ekspresi relasi persaudaraan yang khusus antara umat Islam dan Katolik di Indonesia, yang oleh derajat kedekatan persaudaraan yang demikian dekat, sehingga memutuskan mengabadikannya melalui sebuah terowongan yang memperkuat relasi persaudaraan yang sudah ada.

Keempat: Terowongan adalah sebuah bentuk lain dari sebuah ‘jembatan’, karena substansinya tetap sama, yakni penghubung/menghubungi.

“Tentunya, menghubungkan dua titik yang selama ini dirasa/dianggap terpisah atau terputus.

Dengan adanya terowongan, dua titik yang selama ini terputus sudah tersambung kembali,”timpalnya lebih tajam.

Kelima: Terowongan adalah simbol kesuksesan dialog kerjasama yang adalah satu dari tiga tipologi dialog di dalam gereja Katolik, yakni: Kehidupan, Kerjasama, Teologi dan Spiritualitas.

“Kesuksesan pembangunan terowongan mau mengatakan bahwa dialog pada tataran tutur kata selalu bisa direalisasikan melalui dialog kerjasama nyata untuk kesejahteraan Kita bersama.

Kerjasama lintas agama adalah sebuah urgensi nyata dan selalu mungkin dibutuhkan keterbukaan dan kemauan baik,”pungkasnya, lagi.

Dibagian lain, Padre Marco, SVD, yang banyak membantu menangani dialog antar umat beragama di forum-forum internasional itu juga mengungkapkan, benang merah dengan dokumen Abu Dhabi.

Termasuk dengan sebuah event belum lama ini di Vatikan, bekerjasama dengan kedutaan Inggris Raya dan Italia, untuk Tahta Suci menyelenggarakan sebuah Konferensi International untuk membahas isu-isu ekologi.

Tujuannya untuk membuat kesepakatan bersama, sebagai sebuah seruan kepada para petinggi dunia, yang akan bertemu di Glasgow, akhir Oktober dan awal November 2021 untuk membahas topik yang sama.

Dijelaskan, para petinggi agama dengan semangat persaudaraan Abu Dhabi, menyerukan perhatian yang lebih besar dan lebih serius kepada para petinggi dunia untuk menjaga dan merawat ibu pertiwi, yang menurut Paus Fransiskus di dalam ‘Laudato si’ dengan tujuan menjaga integritas dan keselamatan lingkungan hidup, yang adalah ‘Rumah Kita Bersama’.

Menurutnya, alam ini bukan milik segelintir orang/agama, atau etnik tertentu.

“Ia milik Kita bersama, maka kerjasama lintas agama adalah sebuah kewajiban dan keharusan.

Disini, agama memainkan sebuah peran krusial, karena selain para pemeluk agama sedunia berjumlah lebih dari 80 persen, dari total populasi dunia, tapi juga karena setiap agama memiliki ajaran-ajaran moral untuk berbuat baik terhadap lingkungan hidup.

Disini, ditekankan aspek kerjasama.

Sesuatu yang besar bisa terlaksana, kalau semua ikut aktif berperan dan berkontribusi,”katanya, lebih jauh.

Padre Marco,SVD berharap, dengan adanya terowongan ini, dan juga gebrakan Deklarasi Abu Dhabi, yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar al-Tayeb, mengajak umat Islam dan umat Katolik di Indonesia, untuk saling terus menyapa sebagai saudara.

“Tentu saja, menjadi saudara dalam kemanusiaan, dalam nasib sejarah, dalam kewarganegaraan, tetapi lebih dari itu dalam kemanusiaan, sekalipun berbeda agama.

Sebagai saudara, orang tidak cukup hanya dengan saling mentoleransi, tapi harus saling mengasihi.

Untuk Kita di Indonesia, mari Kita memulai era baru dalam spirit Abu Dhabi untuk saling mengasihi satu sama lain sebagai saudara.

Tahun 2022 adalah tahun toleransi di Indonesia.

Mudah-mudahan, tahun ini memberi tekanan khusus kepada persaudaraan lintas agama di Negara Kita Indonesia tercinta,”tutupnya.

(Delegasi.Com/BBO)

Komentar ANDA?

  • Bagikan