Pembagian Insentif Tidak Merata, Nakes di Puskesmas Waiwerang Mogok Kerja

Wakil Bupati Flores Timur, Agus Boli berbincang dengan tenaga kesehatan Puskesmas Waiwerang yang mogok//Foto: ISTIMEWA

DELEGASI.COM, LARANTUKA – Tenaga kesehatan (Nakes) di ruang rawat inap Waiwerang, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur (Flotim) melakukan aksi mogok kerja, Rabu 19 Januari 2022, dilansir Pos Kupang.com.

Salah satu nakes Puskesmas Waiwerang yang enggan menyebutkan namanya mengaku aksi mogok itu sebagai bentuk protes mereka terhadap kinerja Kepala Puskesmas, yang tidak adil memperlakukan nakes yang ada di puskesmas tersebut.

“Pagi ini hanya ada dua bidan yang masuk, itu juga karena ada dua ibu hamil yang mau melahirkan. Di loket hanya ada satu petugas,” ujarnya kepada wartawan, Rabu 19 Januari 2022.

BACA JUGA:

Kakanwil Kemenkumham NTT Hadiri Deklarasi Janji Kinerja Kanim Maumere

Menurut dia, meski bekerja maksimal, namun petugas kesehatan di ruang rawat inap selalu dianggap tidak bekerja. Bahkan, ketika ada komplain pasien yang dilanjutkan ke grup WhatsApp Puskemas, keluhan itu tak pernah ditanggapi.

“Beberapa tahun ini nakes rawat inap selalu dianggap tidak ada. Selalu dinilai tidak bekerja. Kontrol dari kepala Puskesmas ke petugas rawat inap tidak ada sama sekali. Tapi ketika pembagian jasa, kami dibuat seolah-olah kinerja kami terkontrol. Besarnya uang yang diberikan juga diminta kami pahami. Katanya sesuai kinerja kerja kami. Padahal kami maksimal kerja melayani pasien,” katanya.

Ia juga mengaku kecewa atas pembagian insentif covid yang tidak merata. Padahal selama ini, nakes di ruang rawat inap lebih banyak melayani pasien covid,sampai banyak nakes yang ikut terkapar.

BACA JUGA:

Kasus DBD di NTT Meningkat Selama Januari, 2 Meninggal Dunia

“Kami tidak omong karena soal uang. Kami sadar pelayanan untuk pasien covid itu tupoksi kami. Selama ini kami tidak harap uang. Tapi ternyata diakhir-akhir ini, tangani pasien covid itu ada uangnya dan pembagian meski tidak sama rata pun kami pahami,” jelasnya.

“Kepal Puskesmas sendiri tau, kalau selama ini pasien covid banyak yang kami tangani di rawat inap. Kami urus sendiri sampai sopir sendri yang bungkus jenazah dan antar pasien ke rumah. Tapi dalam pembagian insentif itu kami hanya diberi Rp 2 juta. Itupun disebut kemurahan hati dari kepala puskesmas dan ketua tim covid puskesmas. Kami bekerja tapi tidak ada arti, kami seakan tidak punya nilai. Itu yang kami sakit hati,” sambungnya.

Menurut dia aksi mogok kerja itu akan terus dilakukan sampai ada respon dari Kapala Puskesmas.

“Kalau belum ditanggapi, nakes yang piket malam ini juga tidak mau berdinas,” tandasnya.

Sementara Kepala Puskesmas Waiwerang  Martinus Sanga Samon membantah hal itu. Menurut dia, tidak ada aksi mogok yang dilakukan nakes di puskesmas yang dipimpinnya.

BACA JUGA:

Pantau Program Pembangunan, Gubernur NTT Kunjungi 5 Kabupaten Se-Daratan Timor

“Tidak ada petugas yang mogok kerja. Memang cuaca pagi ini tidak baik makanya ada keterlambatan petugas. Tapi tidak ada aksi mogok. Pelayanan tetap jalan,” katanya.

Terkait keluhan insentif Covid yang dikeluhkan, menurut dia, sudah dibayarkan secara merata sesuai klaim jumlah penanganan pasien.

“Insentif itu dibayar sesuai yang diklaim, bukan atas kemurahan hati saya selaku kapus. Selama ini saya respon dengan semua keluhan. Yang jelas seperti itu, kegiatan dilakukan dan insentifnya dibayarkan sesuai klaim,” tutupnya.

//delegasi(*) 

 

Komentar ANDA?