Sosbud  

Penyandang Disabilitas Desa Paan Leleng Butuh Sentuhan Pemkab Matim

Avatar photo
Marsiana dan suaminya serta kedua anak mereka foto bersama di depan rumah mereka di Kampung Neros Desa Paan Leleng, Kecamatan Kota Komba - Manggarai Timur. Pasutri ini penyandang disabilitas. //Foto: Delegasi.Com(firman jaya)

BORONG, Delegasi.Com – Pasutri penyandang disabilitas Oktavianus Sasman(40) dan Mersiana Duhgu(32) membutuhkan sentuhan pemerintah untuk keberlangsungan hidup keluarga dan dua anak mereka.

Keluarga kecil penyandang disabilitas itu berasal dari Kampung Neros, Desa Paan Leleng-Kecamatan Kota Komba- Manggarai Timur.

Baca Juga : Broker Forex Terbaik Yang Resmi di Rilis BAPPEBTI 2023

Ketika disambangi Delegasi.Com, ke rumahnya yang sangat sederhana, Selasa(5/11/2019), Marsiana mengeluh jika selama ini keluaranya tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah Kabupaten Manggarai Timur.

“Kami tidak  pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah  selama ini pak.  Baik bantuan Program Keluarga Harapan ( PKH ), bantuan beras Rastra, bantuan ruma layak huni, bantuan jaminan kesehatan ( BPJS ) atau  Kartu Indonesia Sehat ( KIS) dan bantuan  lainya. Kami tidak pernah dapat bantuan baik bantuan dari  pemerintah kabupaten  maupun dari desa,”

 

“Jujur pak , dari Desa Paan Leleng kami tidak perna mendapatkan bantuan apapun. padahal kami tau kalau dana desa saat ini banyak. Masa tidak ada angggaran untuk kami yang cacat begini,” ungkapnya tulus.

Dengan tidak pernah mendapat sentuhan dari pemerintah, Mersiana menilai jika dia dan suaminya yang cacat itu diperlakukan tidak adil oleh pemerintah, termasuk aparat Desa Paan Leleng.

“Pemerintah desa tidak pernah berlaku adil.  Jujur, kami juga terkadang merasa iri ketika melihat yang lainya dapat bantuan. Padahal kalau dilihat,  kehidupan keluarga yang dapat bantuan selama ini suda lebih dari cukup,” ungkap perempuan paru baya itu.
Sementara suaminya tidak bisa bicara(tuna wicara).

Dengan keterbatasan fisik, Mersiana bersama sang suami berharap pemerintah bisa memperhatikan mereka dan berlaku adil  kepada keluarganya.

“Kami hanya berharap, pemerintah bisa berlaku adil dan memperhatikan kami, khusus pemerintah desa yang lebih dekat dengan kami. Kami ingin diperlakukan adil seperti keluarga lainya,” tutup Mersiana penuh harap.

Mersiana Dughu dan “Oktavianus Samin adalah pasangan suami istri penyandang disabilitas. Mereka  sudah tujuh tahun hidup berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Putra pertama mereka bernama  Darsi (5) dan Efran(2).

Rumah keluarga Marsiana di Kampung Neros Desa Paan Leleng, Kecamatan Kota Komba – Manggarai Timur//Foto: Delegasi.Com(firman jaya)

 

Mersiana mengalami cacat fisik sejak lahir yaitu enam jari tanganya tidak ada. Sedangkan suaminya Oktavianus Samin mengalami tuna wicara(bisu) sejak lahir.

Kendati kondisi fisik yang tidak sempurna, kedua pasutri ini harus menafkahi  keluarganya. Keduanya terpaksa menjadi buruh kasar di kebun orang dengan upah yang sangat rendah.
Oktavianus  selain bekerja sebagai buru kasar dengan upah sangat rendah, terkadang  juga menjadi petani penggarap.

Mereka membangun rumah ukuran sangat sempit di atas lahan milik sepupu Oktavianus. Rumah itu sangat sederhana.
Berlantai tanah, berdinding pelepu (bambu) dan beratapkan seng yang dipasang tanpa dipaku.

Sementara itu Kepala Desa Paan Leleng, Kristoforus Hasiman saat dikonfirmasi Delegasi.com, Selasa (05/11/2019) mengatakan bantuan untuk keluarga penyandang disabilitas dari pemerintah desa belum ada.

“Saat ini belum ada bantuan untuk keluarga penyandang disabilitas. Nanti kami coba usulkan ke kabupaten. Kanyaknya harus usul ke Dinas Sosial. Kalau tidak di BPMD. Pokonya lihat saja itu,” uangkap Hasiman dengan terburu-buru sambil balik bertanya apakah keluarga itu memiliki KTP atau tidak.
Ketika menyinggung soal bantuan dari pemerintah desa, Hasiman mengaku pihaknya belum ada program bantuan buat keluarga Marsiana.

“Belum eee, nanti kita lapor dulu ke dinas,” tutupnya.

//Delegasi.Com( firman jaya)

Komentar ANDA?