Daerah  

Perintah Wabup Flotim Kurangi Beban Biaya Pesta Adat Didukung Tokoh Masyarakat

Wabup Flotim, Agus Boli, sedang berikan sambutan di Desa Balaweling Satu, Solor Barat, saat Acara Kopdit Ankara, belum lama ini. (AB/Delegasi.Com/BBO)

LARANTUKA,DELEGASI.COM -ko Perintah cerdas Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli,SH.MH, terkait pengurangan beban biaya pesta adat, hingga diPerdeskan, saat melaunching secara resmi hadirnya Kopdit Ankara, di Desa Balaweling I Solor Barat beberapa waktu lalu, mendapat dukungan positif tokoh masyarakat, yang juga Ketua Adat Balaweling Satu, Yoseph Rain Lewo Niron, dan Kepala Desa Balaweling Satu, Krispinus Kapitan Tena Niron.

Keduanya menyatakan siap membuat Perdes pengurangan biaya beban adat sesuai arahan Wabup Agus Boli.

Wabup Flotim, Agus Boli bersama warga di Desa Balaweling Satu, Solor Barat, saat Acara Kopdit Ankara, belum lama ini. (AB/Delegasi.Com/BBO)

 

Sementara, Wabup Agus Boli pada kesempatan itu menegaskan, kehadiran Kopdit Ankara hendak mengajak semua pihak untuk terlibat dalam pemberdayaan ekonomi kemasyarakatan melalui simpan pinjam.

“Dimana, melalui koperasi Kita diajarkan bagaimana membudayakan menabung dan setelah itu, Kita bisa meminjam untuk usaha-usaha perekonomian,”katanya lebih lanjut.

Hanya saja, sebutnya, secara defacto menunjukan banyak masyarakat yang ajukan pinjaman untuk pesta sambut baru dan pesta lainnya, yang mestinya tidak perlu atau bisa dikurangi beban biayanya.Padahal, kunci kekuatan ekonomi keluarga itu adalah menambah pemasukan modal dan menekan pengeluaran modal.

Ironisnya, sambung Wabup Agus Boli, masyarakat juga jarang, bahkan tidak pernah menabung, tetapi pengeluaran besar terus terjadi setiap hari.

“Harusnya dengan kesadaran penuh, bisa diminimalisir.

Misalnya, pesta sambut baru, daripada buat acara sendiri-sendiri, dimana satu anak bisa habiskan Rp. 5 juta sampai Rp.10 juta, hanya untuk makan, lebih baik buat kesepakatan pesta bersama di Gereja, yang butuh satu dua ekor hewan, cukup untuk 50 anak.

Wabup Flotim, Agus Boli, sedang berikan sambutan di Desa Balaweling Satu, Solor Barat, saat Acara Kopdit Ankara, belum lama ini. (AB/Delegasi.Com/BBO)

Demikian pula, dengan adat kematian.

Juga perlu pengurangan beban biayanya, tanpa harus hilangkan hakikat inti adatnya,”jelas Agus Boli.

Ia mencontohkan, saat penguburan, biasanya yang hadir melayat, meski tidak direncanakan, namun bisa sampai ratusan ribuan orang.

Maka buat kesepakatan untuk tidak makan minum saat itu.

“Cukup di Nebo atau doa malam ketiga baru makan minum bersama juga boleh.

Lalu, pemberian hewan dan material adat lainnya seperti kain sarung, beras, untuk saudara nenek atau Mama (Bailake,red), juga tidak perlu atau dikurangi satu ekor saja sebagai simbol penghormatan budaya.

Sebab, ada kampung yang bisa mengantar hewan sampai puluhan ekor, dan menyisahkan utang bertahun-tahun,”tohoknya serius.

Akibat lanjutnya, beber Agus Boli, banyak keluarga yang kalah di bidang pendidikan.

“Yah, mestinya kedua belah pihak, baik saudari keluarga (bine,red) dan saudara yang meninggal, bisa bersepakat saling bantu.

Ini perlu Saya gambarkan karena pengeluaran di urusan ini sangat besar dan menyumbang kemunduran ekonomi.

Kita bisa belajar di wilayah-wilayah yang sudah melaksanakan ini.

Seperti di Paroki asal Saya, yakni Paroki Ritawolo Kecamatan Adonara Barat.

Itu dimulai dari kesepakatan pengurus gereja, dan kemudian di Perdeskan agar mengikat.

Di tempat lahir Saya Wai Helan, Desa Bukit Seburi, sudah lama Kami jalani tanpa menghilangkan kakikat inti adat budaya, dan masyarakat sangat terbantu,”paparnya, beri semangat lagi.

Bahkan, Dia beritahu kalau walau Kampungnya Wai Helan, hanya punya 65 Kepala Keluarga, tetapi menghasilkan sarjana ratusan orang.

“Satu Kepala Keluarga bisa miliki sarjana lebih dari satu orang, walau semua Kepala Keluarga berprofesi petani kecil,”pungkasnya, lagi.

Disinggung masih ada alasan bahwa ini budaya sudah lama, sehingga sulit dihilangkan, Wabup Agus Boli, berargumen, “Iyah, benar tapi Kita bisa lakukan penyesuaian karena populasi penduduk sekarang berbanding terbalik dengan kekuatan ekonomi saat ini, dan kedepan,”tutupnya.

Pada bagian lainnya, Kades Balaweling Satu, Krispinus Niron, dan Ketua Adat, Yoseph Niron menegaskan, apa yang disampaikan Wabup Agus Boli, benar sesuai situasi di tengah masyarakat saat ini.

“Utang akibat beban biaya adat orang mati, baik Ina Bine maupun pihak keluarga duka sangat tinggi.

Dulu, pernah dibuat tapi kemudian tidak mengikat lagi.

Karena itu, perlu dibuatkan Perdesnya lagi,”ujar keduanya, merespons pernyataan Wabup Agus Boli, sebagaimana rilis yang diperoleh Delegasi.Com.

Keduanya bahkan nyatakan siap lakukan dengar pendapat dengan masyarakat dan lembaga pemangku adat, untuk menjadi isi peraturan desa, beserta sanksi-sanksi bagi yang melanggar.

“Kami berterima kasih pada Bapak Wabup Agus Boli, karena sebagai pemimpin beliau sangat peka terhadap dinamika kehidupan masyarakat di tengah yang kian terpuruk dengan memberi gagasan dan perintah yang akan membantu masyarakat dalam jangka panjang.

Kami tahu masalah ini tetapi Kami juga butuh motivasi dari pemimpin Kami, dan hari ini Kami mendapatkan gagasan dan perintah istimewa ini,”ujar Krispinus Niron dan Yoseph Niron.

Pesta adat kematian salah satu keluarga di Desa Lamapaha, Kelubagolit. (Delegasi.Com/BBO)

//delegasi (BBO)

Komentar ANDA?