Home / Opini / Pilpres: Pertarungan Idiologi Rasionalisme-Modern VS Nasionalisme-Religius

Pilpres: Pertarungan Idiologi Rasionalisme-Modern VS Nasionalisme-Religius

“Namun, Hendropriyono
salah dalam melihat permasalahan ideologi yang muncul dalam PILPRES T2019 ini karena menganggap sedang terjadi pertarungan ideologi antara ideologi pancasila vs khilafah. Seandainya kesalahan itu hanya suatu cara untuk meyakinkan diri-sendiri dan kelompok pendukung Jokowi bahwa mereka sedang berjalan “on the track”, masalahnya dapat didiamkan; tetapi kalau tujuannya adalah untuk mendiskreditkan Prabowo dan pendukungnya, maka keadaan akan semakin gaduh dan semakin panas”

Oleh: John Kaunang
Pengamat Kebijakan Pembangunan Wilayah

PILPRES T2019 ini sangat gaduh, sangat panas, dan juga luar-biasa. Jika keadaan yang luar-biasa ini hanya merupakan luapan emosi yang bersifat sementara, atau hanya sekedar taktik dalam permainan, maka tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Namun, jika merupakan pertarungan yang bersifat ideologik, maka patut diwaspadai dan patut dikhawatirkan. Pernyataan A.M. Hendropriyono yang menyebutkan bahwa PILPRES kali ini juga merupakan pertarungan ideologi, memberikan tanda bahwa rezim berkuasa sedang khawatir terhadap perkembangan yang sedang berlangsung. Hendropriyono memang benar, ada pertarungan ideologi tetapi terlambat sadar karena sesungguhnya pertarungan Ideologi di Indonesia, dan di dunia, sesungguhnya tidak pernah berhenti sejak manusia mulai bermasyarakat.

Namun, Hendropriyono salah dalam melihat permasalahan ideologi yang muncul dalam PILPRES T2019 ini
karena menganggap sedang terjadi pertarungan ideologi antara ideologi pancasila vs khilafah.

Seandainya kesalahan itu hanya suatu cara untuk meyakinkan diri-sendiri dan
kelompok pendukung Jokowi bahwa mereka sedang berjalan “on the track”,
masalahnya dapat didiamkan; tetapi kalau tujuannya adalah untuk mendiskreditkan Prabowo dan pendukungnya, maka keadaan akan semakin gaduh dan semakin panas.

Sesungguhnya, sudah sejak Indonesia, dan juga dunia secara keseluruhan, dicengkeram oleh ideologi politik rasionalisme-modern yang bersifat kebendaan/materialistik yang, pada kenyataannya, telah gagal dalam mengatasi masalah ketidak-adilan dan
kemiskinan.

Padahal, Indonesia sudah punya ideologi dasar pancasila dengan turunannya ideologi politik nasionalisme-relijius yang jauh lebih baik daripada rasionalisme-modern yang materialistik ini; dan, ini aneh, kok bisa ya, pancasila dibiarkan untuk dikangkangi selama ini.

Inilah permasalahan yang sesungguhnya yang muncul ke permukaan dalam rangka PILPRES T2019 ini.

Dengan demikian, pertarungan
ideologi yang sedang berlangsung adalah pertarungan ideologi politik antara
rasionalisme-modern yang materialistik vs nasionalisme-relijius (keturunan langsung dari pancasila).

 

Agar tidak terjadi silang-sengketa yang tidak perlu, terlebih dahulu akan diuraikan tentang ideologi politik rasionalisme-modern itu sebagai berikut:

◼ Rasionalisme adalah paham yang diturunkan dari filosofi (atau ideologi dasar) cogito ergo sum yang bermakna bahwa kehidupan manusia tidak perlu disibukkan dengan mengimani ketuhanan yang sangat abstrak, cukup dengan berpikir tentang hal-hal yang
dapat memberikan manfaat yang nyata. Filosofi ini muncul sebagai kritik, atau
antitesis, terhadap teo-isme (teologi skolastik) yang pada masa itu mengatur kehidupan manusia berdasarkan filosofi credo ut intelligam yang bermakna bahwa manusia harus  terlebih dahulu mengimani ketuhanan dengan benar sebelum berpikir.

Dengan demikian, filosofi cogito ergo sum merupakan suatu tawaran yang bersifat radikal karena dimaksudkan untuk memperbarui kehidupan manusia secara mendasar sampai ke akar-akarnya.

◼ Kata memperbarui (atau memodernkan) di atas membuat paham rasionalisme menjadi rasionalisme-modern; ada yang menyebut dengan satu kata saja yaitu modernisme.

Rasionalisme-modern, pada hakekatnya, dimaksudkan untuk menjadikan
setiap manusia sebagai tuan atas diri-sendiri, sebagai individu yang bebas terutama dalam berpikir. Selanjutnya, pengertian manfaat yang nyata, sebagaimana tersebut di atas, dalam rasionalisme-modern adalah manfaat yang dapat diukur atau yang dapat
dibuktikan kebenarannya dengan kekuatan pikiran secara ilmiah.

Itu berarti bahwa manfaat yang nyata itu haruslah manfaat yang bersifat kebendaan/materialistik.

Oleh sebab itu, rasionalisme-modern adalah paham yang bersifat materialistik, yang dari sudut pandang tertentu, memunculkan lagi paham utilitarisme atau utilitarianisme.

Di kemudian hari, sebagai penghormatan kepada Rene Descartes (1596-1650), filsuf yang mencetuskan filosofi cogito ergo sum, diberikanlah gelar bapak modernisme.

◼ Dalam perkembangan selanjutnya, paham rasionalisme-modern ternyata menjadi lahan subur bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan untuk kecekatan dan teknologi (E.F. Schumacher, 1977)  agar memudahkan, sebut saja ilmu pengetahuan untuk kecekatan
dengan ilmupengetahuan rekayasa.

Perkembangan ini semakin mempertegas bahwa rasionalisme-modern pada tataran implementasi memiliki kualifikasi ilmiah; tetapi, seiring dengan itu, sifatnya yang materialistik juga semakin dipertegas.

Pertumbuhan ilmu pengetahuan rekayasa dan teknologi yang subur dalam lingkup rasionalisme-modern menyebabkan proses industrialisasi di Inggris bergerak cepat, berubah secara
radikal, sehingga terjadilah revolusi industri selama periode 1750-1850.

Bersamaan dengan itu, masuklah paham kapitalisme ke dalam sistem produksi industrial yang mengubah keseluruhan sistem ekonomi secara radikal pula.

◼ Rasionalisme-modern juga merambah ke bidang politik di Eropa yang kemudian
menghasilkan revolusi Perancis (1789-1799), Sebagaimana diketahui, revolusi Perancis merupakan tonggak sejarah tentang keberhasilan perjuangan mendapatkan perlindungan terhadap hak azasi manusia; pengaruhnya tidak hanya di Eropa tetapi juga di dunia secara keseluruhan. Motto perjuangan dalam revolusi Perancis pada waktu itu adalah liberté, egalité, dan fraternité (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan)  “liberalism”, “egalitarism/egalitarianism”, “fraternism”.

Sejak itu, sistem monarki absolut yang oligarkik, feodalistik, aristokratik dan berperi-laku kejam di Eropa mulai berjatuhan; bertumbuhlah paham-paham baru lagi seperti demokratisme-
liberal (“one man one vote”), sekularisme dan radikalisme.

Seiring dengan itu, rasionalisme-modern juga meminggirkan teologi skolastik (salah satu cabang dalam rumpun teo-isme) terutama di bidang politik dan keilmiahan.

Akibatnya, pertumbuhan ilmu pengetahuan yang dikategorikan sebagai ilmupengetahuan untuk pengertian yaitu pengertian tentang ketuhanan dan kealam-semestaan atau kejagad-rayaan mengalami perlambatan.

Salah satu dampak negatif dari terpinggirnya teo-isme (dan juga mistik-
isme yang masih ada pada waktu itu) dalam politik dan aktivitas-aktivitas keilmiahan membuat sebagian besar kehilangan panduan dasar tentang cara hidup serta arah dan tujuan hidup yang damai, menyelamatkan, dan akhirnya membahagiakan.

Roh kehidupan yang memuat nilai-nilai moral, etika, dan estetika otomatis tergerus.

◼ Rasionalisme-modern yang materialistik memang memiliki kekuatan untuk
mereduksi roh kehidupan itu, dan kemudian menghanyutkan manusia ke dalam pragmatisme karena hanya mengandalkan pikiran yang terukur saja.

Output dari rasionalisme-modern bersifat divergens, berupa hasil yang bertumbuh secara terus-menerus sambil menggandakan dirinya dengan memperbudak pikiran manusia.

Perbudakan terhadap pikiran membuat pikiran tidak dapat memprediksi apa yang nanti yang akan menjadi ujung atau akhir (omega) dari proses divergensiasi itu; bahkan, sampai dengan saat ini pikiran keilmiahan pun belum dapat mengetahui awal (alpha) dari keberadaan materi alam-semesta, termasuk keberadaan manusia yang
nyata.

Ketidak-mampuan pikiran kaum modernis menjangkau jauh ke masa depan cenderung bersikap “forget it”, cukup kekinian saja  pragmatisme.

Rentang kekinian orang modern memang tidak pendek ke depan dan ke belakang, baik jarak maupun waktunya, tetapi amat sangat lebih pendek daripada rentang kehidupan yang berketuhanan.

Apa kritik terhadap rasionalisme-modern yang dianggap berbahaya bagi kehidupan manusia di zaman ini ?! Kehebatan dari hidup secara modern memang luar-biasa tetapi coba disimak ceritera berikut:

 

Sejak dahulu kala, sekitar 5.000 tahun lalu, semua bencana kemanusiaan bersumber pada stratifikasi kekayaan dengan rentang kesenjangan yang sangat besar antara yang paling kaya dengan yang paling tidak kaya atau miskin (Jeffrey A. Winters, 2015, dalam Kepresidenan Jokowi dan Masalah
Oligarki).

Jumlah orang kaya itu hanya segelintir sementara yang tidak kaya jumlahnya
segudang. Oleh sebab itu, kesenjangan itu sangat tidak adil bagi kaum yang tergolong tidak kaya sehingga ketidak-adilan menjadi ancaman bagi orang kaya.

Demi mengamankan diri dari ancaman itu, para orang kaya membangun sistem oligarki; dan, merekalah kaum oligark.

Kekuasaan adalah sesuatu yang memiliki kekuatan untuk meredam ancaman rasa tidak adil itu.

Oleh sebab itu, kekuatan kekayaan digunakan oleh kaum oligark untuk mempengaruhi kekuasaan atau bahkan menjadi penguasa muncul stratifikasi kekuasaan yang membentuk sistem oligarki dalam kekuasaan.

Semula, sumber dari kekayaan kaum oligark adalah sumberdaya alam dan jasa-jasa sehingga demi kejayaan sebagai orang kaya, sekurang-kurangnya, sumberdaya alam harus dikuasai atau dimiliki sebanyak-banyaknya.

Namun, ketersediaan sumberdaya
alam terbatas sehingga kumpulan rakyat yang seharusnya menguasai karena menjadi pemegang kedaulatan atas negara mulai diintimidasi, diusik, dirampok, disobek harga dirinya, dan lain-lain. Rakyat melawan, “people power”, terjadilah bencana
kemanusiaan yang sangat tragis.

Kemodernan atau modernisasi menawarkan industrialisasi sebagai jalan keluar untuk merasionalisasikan kesenjangan dalam stratifikasi kekayaan agar tercapai titik keseimbangan yang dapat diakui sebagai memenuhi rasa adil.

Namun, pada kenyataannya, stratifikasi kekayaan tetap ada; bahkan, rentang kesenjangannya justru menjadi lebih lebar lagi. Ironi modernisme; aneh tapi nyata.

Padahal, rasionalisme-modern mempunyai perangkat demokratisme-
liberal yang seharusnya dapat menarik partisipasi rakyat dalam jumlah yang besar sehingga kesenjangan dalam strata kekayaan dapat dibuat supaya memenuhi rasa adil secara relatif merata. Masalahnya, orang banyak itu adalah bagian dari sistem oligarki. Kok bisa ?!

Memang bisa karena berdemokrasi dan menyelenggarakan kekuasaan
memerlukan kekayaan sebagai sumber pembiayaan yang hanya dipunyai oleh kaum oligark.  Mengapa orang sangat mudah merelakan harga dirinya sebagai bagian dalam sistem oligarki ?!

Sifat rasionalisme-modern yang materialistik itulah penyebabnya. Demi menjadi orang modern, kekayaanmenjadi tujuan hidup atau, sekurang-kurangnya, menjadi pemuja materi yang dalam hal ini adalah kekayaan.

Apalagi rasionalisme-modern memiliki senjata ilmupengetahuan rekayasa dan
teknologi yang kekuatannya sangat dahsyat untuk mempengaruhi; rasionalisme-modern tidak lain adalah perangkap imperialisme ilmiah yang hanya mengandalkan  kekuatan pikiran.

Akibatnya, hanya segelintir orang saja yang menjadi tuan atas diri sendiri sedang orang lain yang jumlahnya sangat banyak hanya menjadi pengikut atau
hamba-sahaya seperti “kera yang bernyanyi”.

Oleh sebab itu, E.F. Schumacher (1911-1977), seorang ekonom dan filsuf yang sangat terkenal, telah menulis dalam bukunya “Small is Beautiful” (1973) agar negara-negara lebih baik memilih skala ekonomi kecil sebagai kebijakan pembangunannya untuk
menghindarkan manusia dari tragedi kemanusiaan sebagaimana tersebut di atas.

Landasan filosofi dari pilihan itu dapat ditemukan dalam buku filsafatnya yang berjudul “A Guide for The Perplexed” (1977). Ia berharap agar generasi baru manusia segera menghentikan era modern, menggantikannya dengan era baru yaitu era “post-modernism”.

Ia tidak secara spesifik menunjukkan bentuk dari era “post-modernism”
tetapi dari keseluruhan isi bukunya jelas tergambar hasratnya agar aspek spiritualitas yang sarat dengan nilai-nilai moral, etika, dan estetika yangbersumber pada agama tetap menjadi bagian yang terintegrasi dalam sistem politik. Ia berkesimpulan: “percobaan manusia untuk hidup modern tanpa agama telah gagal”.

Lantas, apa yang harus dilakukan ?! Indonesia seharusnya berbangga karena
mempunyai ideologi dasar pancasila karena pancasila mempunyai kekuatan spiritual yang tidak hanya dapat mendorong rakyat untuk beraksi tetapi juga dapat melakukan
pengendalian diri secara otomatik.

Pancasila juga memiliki kekuatan spiritual untuk mengatur kebebasan, bukan dalam arti membatasi, tetapi dalam arti mengarahkan sehingga tidak menjadi liar.

Kekuatan spiritual yang lain yaitu pancasila dapat menjadi panduan dalam menjadikan sistem sosial kemasyarakatan rakyat Indonesia menjadi terbuka, tidak hanya terhadap dunia tetapi juga terhadap keseluruhan jagad-raya.

Pancasila, secara implisit, menggambarkan keteraturan perpaduan antara dinamika perkembangan kehidupan yang bersifat divergens dan konvergens sehingga rakyat Indonesia mempunyai panduan dasar cara hidup selamat serta tidak akan kehilangan
arah dan tujuan hidupnya. “Last but not least”, Pancasila secara keseluruhan
menyebarkan aroma cinta-kasih yang sangat kental.

Semua sila, baik yang tersusun di
awal kelahirannya maupun yang telah diamandemen, menggambarkan betapa cinta-kasih menjadi sentral dari kehidupan rakyat Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sesungguhnya, Indonesia tidak mungkin ikut-ikutan terperosok masuk ke dalam jebakan rasionalisme-modern yang materialistik kalau pancasila dihayati dan dipraktekkan dengan baik dan benar.

Oleh sebab itu, seharusnya, Indonesia menjadi salah satu negara yang sudah siap untuk memulai era “post-modernism”; Indonesia tidak perlu terlebih dahulu menjadi negara modern seperti negara lain.

Indonesia bahkan secepatnya dapat menjadi pionir dalam mempraktekkan cara hidup baru “post-modernism”.

Namun, perlu disadari bahwa cengkeraman rasionalisme-modern di Indonesia sudah sangat kuat dan mendalam sampai ke akar-akar kehidupan sosial-kemasyarakatan,
terutama di wilayah perkotaan. Oleh sebab itu, diperlukan suatu cara berpikir radikal dan gerakan yang revolusioner untuk melakukan perubahan.

Senjata ideologi yang dahsyat adalah nasionalisme-relijius yang, sesungguhnya, adalah pancasila dalam politik praktis. Pemikiran yang radikal dan tindakan yang revolusioner hanya dapat dilakukan oleh sekelompok orang-orang yang militan, kreatif, berjiwa ksatria dan patriot bangsa.

Pergerakan dimaksud juga memerlukan keikut-sertaan rakyat dalam jumlah besar sehingga harus ada manajer-manajer berkualitas tinggi.

Pengorganisasian massa dalam
jumlah besar diperlukan tetapi azas cinta-kasih pancasila mewajibkan agar tidak terjadi bentrokan secara fisik yang berujung pada tragedi kemanusiaan.

Manajer-manajer itu harus memiliki keahlian strategik, taktik, dan bermain di lapangan; mereka harus paham budaya dan tradisi rakyat Indonesia untuk berkelompok dalam jumlah besar agar pergerakan itu dapat mengakumulasikan kekuatan menjadi cukup besar.

Inilah yang perlu dipahami oleh seluruh rakyat Indonesia sehingga tidak mudah dipengaruhi
oleh kepentingan para oligark dan penganut rasionalisme-modern yang materialistik yang pasti akan melakukan perlawanan secara total (“perang total”), termasuk dengan memanfaatkan kekuatan kekuasaan semaksimal-mungkin.

Pertarungan dalam PILPRES T2019 ini adalah pertarungan ideologi rasionalisme-modern vs nasionalisme-relijius dan pasti akan menarik perhatian dunia karena dunia juga sedang galau terhadap cengkeraman rasionalisme-modern yang ternyata tidak
seindah harapan.

Sistem oligarki tetap eksis, bahkan semakin melebarkan kesenjangan dalam stratifikasi kekayaan; kekuasaan kekuasaan saling bertarung dalam getaran yang semakin lama semakin keras; nilai-nilai moral, etika, dan estetika yang diajarkan agama dan yang diwariskan leluhur, yang sebenarnya dapat menyelamatkan umat manusia,
terpinggirkan oleh terjangan rasionalisme-modern yang materialistik.

Oleh sebab itu, jika para petarung dari kelompok Jokowi dan Prabowo masih
pancasilais, maka pertarungan akan berlangsung pada level kualitas kemanusiaan yang tinggi yang akan membuat Indonesia menjadi negara idaman dan panutan; negara
yang dirahmati dan diberkati oleh Tuhan Sang Pencipta, sumber dari segala sumber
kehidupan dan alam-semesta.

Kupang, 8 April 2019

Komentar ANDA?

About Delegasi Online

Check Also

Investasi Mengatasi Masalah Kemiskinan: Ironi Pembangunan Wilayah, Kasus NTT

Definisi kemiskinan menjelaskan bahwa variabel untuk mengukur derajad kemiskinan adalah pendapatan murni.  Tetapi yang digunakan ...