Home / Opini / Pragmatisme dan Polemik Tambang

Pragmatisme dan Polemik Tambang

“Filsafat Pragmatisme meminta Pemerintah, Masyarakat dan kita semua untuk mendeterminasi mana tindakan yang harus kita ambil. Sebab, semua aspek tersebut penting adanya. Apakah lebih memilih Aspek Ekonomi dan Infrastruktur lalu mengabaikan Aspek Lingkungan dan Budaya? Ataukah justru memilih Aspek Lingkungan dan Budaya, lalu mengabaikan Ekonomi dan Infrastruktur?…”

Yasintus E. Darman.

0DELEGASI.COM – Kehidupan Manusia pada hakikadnya tidak terlepas dari masalah, baik masalah pribadi maupun masalah yang sifatnya universal misalnya, masalah Kebijakan Pemerintah. Rupanya, persoalan justru menjadi warna tersendiri dalam realitas kehidupan kita. Menjadi sangat unik bila kehidupan kita diselingi dengan persoalan. Bahkan, dalam cara pandang tertentu, eksistensi Manusia sangatlah berarti apabila mengahadapi berbagai persoalan. Sebab, dalam menghadapi persoalan kita ditantang habis-habisan untuk bisa mengatasinya. Di situlah kualitas kita diuji. Dalam masalah yang dihadapi, tentunya kita diminta untuk bukan malah menghindar tetapi, justru mendekat dengan masalah tersebut. Mendekat dalam hal ini, bertujuan untuk menjadikan seluruh masalah sebagai dasar dalam menata kehidupan yang lebih baik. Sebab, itulah salah satu panggilan hidup Manusia.

Salah satu masalah kita hari ini ialah Covid-19. Di tengah hiruk-pikuk tragedi Covid-19 itu, lagi-lagi kita dirundung oleh satu polemik baru yaitu, masalah Tambang di Kampung Luwuk dan Lengkololok, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur. Masalah ini mengundang perhatian banyak pihak. Partisipasi sangat diharapkan di sana, terutama dalam upaya pemecahan persoalan Tambang, agar menemukan titik terang.

Isu dan Orientasi Tambang

Mengutip TAJUK FLORES.com-Baru-baru ini, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menyatakan persetujuannya terkait Pembangunan Semen di Manggarai Timur. Kata dia, saat ini pembanguanan di NTT membutuhkan semen. Menurut Viktor, kebutuhan Semen di NTT setiap tahun mencapai 1,2 juta ton/tahun. Belum lagi kebutuhan Semen di Timor Leste mencapai 600 ribu ton/tahun. Sementara produksi Semen Lokal hanya mampu menghasilkan 250 ribu ton/tahun saat ini. “Produksi Semen Kupang saat ini hanya mampu mencapai 250 ribu ton/tahun. Pabrik Semen di Manggarai Timur bertujuan utuk memenuhi kebutuhan Lokal.

Selain isu di atas, Borong, SorotNTT.com menginformasikan rencana Pembangunan Pabrik Semen oleh PT Istindo di Kampung Luwuk dan Lengkololok Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur mendapat respon positif dari Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur. Hal ini disampaikan dalam kunjungan kerja Bupati Manggarai Timur, Selasa (21/01/2020) Siang, di Kampung Luwuk.

Berdasarkan pemberitaan Media di atas, dapat ditarik konklusinya ialah Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur memberikan karpet merah untuk pembangunan Semen di Manggarai Timur. Tujuannya ialah mampu memenuhi kubutuhan akan Semen, terutama untuk pembangunan infrastruktur dan adanya orientasi kesejahteraan Ekonomi Masyarakat. Dalam hal ini, ada dua orientasi Pemerintah, yaitu: Ekonomi dan Infrastruktur.

Di balik Kebijakan Pemerintah tersebut menimbulkan polemik di tengah Masyarakat. Masyarakatpun ahirnya terfragmentasi menjadi dua keolompok, yaitu: Melompok Pro Pemerintah dan Kelompok Kontra Pemerintah. Kelompok Pro memandang bahwa Tambang Semen tersebut mampu memberikan kesejahteraan pada aspek Ekonomi Masyarakat. Tetapi, berbeda dengan kelompok Kontra yang memandang bahwa kehadiran Tambang akan merusak aspek Lingkungan dan Budaya Masyarakat. Itulah motif dari kedua kelompok tersebut.

Filsafat Pragmatis

Filsafat Pragmatisme menjadi sangat penting dalam konteks persoalan Tambang. Filsafat ini kemudian, hadir untuk memberikan jalan yang terang berupa pencerahan terhadap polemik yang dialami Masyarakat. Agar, mampu menentukan mana yang lebih urgen dari setiap aspek yang ada, dengan cara menguji dampak dari setiap aspek tersebut.  

Menurut C.S. Peirca dalam artikelnya “How to Make Our Ideas Clear” dalam Popular Science Monthly, Januari 1878, Peirce mengatakan bahwa kita perlu menentukan mana tindakan yang sangat berarti bagi kita yang perlu kita ambil. Untuk memahami objek dari pemikiran kita, kita perlu mempertimbangkan akibat praksis apa yang menurut akal sehat dapat terkandung dalam objek itu.

Bersandar pada pendapat di atas, Filsafat Pragmatisme meminta Pemerintah, Masyarakat dan kita semua untuk mendeterminasi mana tindakan yang harus kita ambil. Sebab, semua aspek tersebut penting adanya. Apakah lebih memilih Aspek Ekonomi dan Infrastruktur lalu mengabaikan Aspek Lingkungan dan Budaya? Ataukah justru memilih Aspek Lingkungan dan Budaya, lalu mengabaikan Ekonomi dan Infrastruktur? Di sinilah Filsafat Pragmatisme hadir untuk menentukannya dengan jelas.

Pertama, aspek Ekonomi dan Infrastruktur adalah orientasi pemerintah. Semuanya ini bertujuan untuk kesejahteraan Masyarakat dan penambahan pendapatan Daerah. Masyarakat akan mendapatkan Uang, akses Jalan yang baik dan lain sebagainya. Semua yang dibuat adalah benar adanya. Karena dengan Uang kita bisa membeli sesuatu dan memenuhi kebutuhan yang lain. Di situlah kita menikmati Sorga. Tetapi ingat, berbicara Tambang pasti ada habisnya. Ketika, Tambang tersebut telah dieksploitasi, para Investor akar melarikan diri dan mencari mangsa lain. Kita ditinggal derita. Inilah akibatnya.

Kedua, Eksistensi Lingkungan memiliki beragam unsur di dalamnya. Di dalam lingkungan ada Air, Udara, Fauna, Flora dan unsur lainya. Dengan melihat unsur ini, kalau boleh jujur bahwa Lingkungan adalah sumber Nyawa dan kehidupan kita. Sebab di sana, seluruh kebutuhan kita disediakan. Hal ini, kita bisa ibaratkan Lingkungan layaknya seorang Ibu yang di sanalah sumber kehidupan. Ketika kemudian, Tambang hadir di sana, secara otomatis semua unsur yang terkandung dalam Lingkungan itu ahirnya sirnah. Itulah dampaknya. Hal ini, mesti dicerna sebaik mungkin. Selain itu, ketika Lingkungan terkontaminasi, apakah kita masih dibilang bijak untuk Generasi yang akan datang? Bukankah definisi Lingkungan adalah titipan Generasi yang akan datang?

Ketiga, kita kehilangan Budaya. Sebab term Lingko dalam Budaya Manggarai, hilang di balik arogansi kita.

Sekarang, pertanyaannya pentingnya ialah apakah nilai material yang kita agungkan sungguh bermakna apabila nyawa dan kehidupan kita terancam? Sebagai Manusia yang normal, kita pastinya lebih memilih Nyawa dan kehidupan, ketimbang nilai materi yang kita agung-agungkan. Sebab, tujuan hidup adalah memberi kita kehidupan yang aman dan harmonis. Konklusi yang mau ditarik untuk menjadi substansinya ialah Lingkungan dan Budaya yang sebagai sumber Nyawa dan kehidupan adalah aspek yang paling urgen untuk dipertahankan dan secara otomatis,  kita tolak Tambang demi nyawa, generasi dan budaya kita.

Melihat penjelasan di atas, dalam perspektif Pragmatis pasti menolak alasan Ekonomi dan Infrastruktur. kita harus jujur bahwa masalah Ekonomi dan infrastruktur masih bisa diatasi bukan hanya dengan Tambang. Pemerintah bisa meningkatkan aspek Pertanian dan Peternakan untuk kesejahteraan Ekonomi Masyarakat. Menjadi soal, apabila berharap penuh pada Tambang untuk kesejahteraan hidup Masyarakat, di sini Pemerintah di nyatakan gagal total (Gatot) dalam mengelola. Potensi aspek Pertanian dan Peternakan itu, mestinya perlu ditingkatkan sejalan dengan peningkatan Sumber daya Manusia (SDM). Sebab, kualitas Lingkungan untuk bertani dan berternak sangat menunjung sebuah peradaban, terutama pada kesejahteraan hidup Masyarakat.

Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi Universitas Nusa Cendana Kupang.

Komentar ANDA?



About Delegasi Online

Check Also

New Normal dan Imunitas Jiwa

“New Normal untuk  pemulihan  ekonomi mestinya didahului dengan pemulihan jiwa yang pernah terintimidasi akibat Covid-19. ...