Home / Daerah / Wai Jara, Sumber  Mendamaikan Sekaligus Malapetaka
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Nusa Tenggara Timur, Dr.Keron A.Petrus,SE,MA //Foto: delegasi.com(Istimewa)

Wai Jara, Sumber  Mendamaikan Sekaligus Malapetaka

“Wai Jara merupakan sumber air satu-satunya di puncak Ile Boleng, berada di bagian timur Riawale, bekas perkampungan leluhur Adonara (Kelake Ado Pehan dan Kewae Sedo Bolen). Kelake dan Kewae bersama keturunannya memanfaatkan air itu untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari. Namun, keberadaan Wai Jara bukanlah sumber air biasa, melainkan memiliki daya ubah yang luar biasa. Daya ubah dapat merusak (menghancurkan), sebaliknya dapat mendamaikan/mempersatukan. Daya ubah yang melekat pada Wai Jara, dalam warisan tutur dinamakan ‘Ago’pake Wai Jara‘”

Oleh:  Dr. Keron A. Petrus,SE,MA

 

 

Ketika mengunjungi para Korban bencana Badai Seroja di Adonra-Flores Timuur, Presiden-jokowi-menangis-saat-melihat-korban. //Foto: ISTIMEWA

 

Tulisan ini adalah seri  kedua  dari gambaran umum secara keseluruhan berjudul Mengenal Lebih Dekat Ekologi Budaya Masyarakat Adonara. Pada seri kedua ini  disajikan asal muasal sumber air Wai Jara yang telah menjadi perbincangan luas pasca Badai Siklon Seroja. Pendasaran untuk mendeskripsi keberadaan Wai Jara,  mengacu pada dua konsep yang sering digunakan dalam disiplin Ilmu Antropologi, yakni Legenda dan Mitos (lihat misalnya, Havilan,1985; Baal (1987; Keesing,1992). Para antropolog ini pada intinya menegaskan, legenda-mitos pada dasarnya bersifat religius karena memberi rasio pada kepercayaan/keyakinan terhadap dari mana asal usul manusia (nenek moyang/leluhur), tokoh-tokoh sakti, tempat-tempat keramat, benda-benda magis dan segala sesuatu lainnya yang ada di dunia (alam). Legenda-mitos sejauh ini dipercaya, diterima dan dilestarikan.

 

Mendamaikan Sekaligus Malapetaka

DELEGASI.COM – Pasca Badai Siklon Tropis Seroja, 5 April 2021 keberadaan sumber air Wai Jara di puncak Ile Boleng telah menjadi perbincangan di kalangan masyarakat Adonara, baik yang berdomisili di Adonara-Flores Timur, maupun di luar. Masyarakat melihatnya bukan semata bencana alam biasa,  melainkan diyakini sebagai “murka” alam Ile Boleng. Murka terhadap warga yang telah mengambil sesuatu (benda-benda magis), termasuk mengambil air dari sumbernya Wai Jara di puncak ile Boleng.

Bagaimana sesungguhnya asal muasa keberadaan sumber air Wai Jara dan siapa sesungguhnya penguasa Wai Jara yang terletak di puncak Ile Boleng itu di tempo dulu?

DESA-Inilah Desa Nelelamadike, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur yang mengalami kerusakan saat bencana.Desa ini akan dikunjungi Presiden RI hari ini, Jumat (9/4/2021) siang. //Foto: ISTIMEWA

Ago’ Pake Wai Jara

Alkisah, Wai Jara merupakan sumber air satu-satunya di puncak Ile Boleng, berada di bagian timur Riawale, bekas perkampungan leluhur Adonara (Kelake Ado Pehan dan Kewae Sedo Bolen). Kelake dan Kewae bersama keturunannya memanfaatkan air itu untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari.

Namun, keberadaan Wai Jara bukanlah sumber air biasa, melainkan memiliki daya ubah yang luar biasa. Daya ubah dapat merusak (menghancurkan), sebaliknya dapat mendamaikan/mempersatukan. Daya ubah yang melekat pada Wai Jara, dalam warisan tutur dinamakan “Ago’pake Wai Jara”. Ago’pake Wai Jara bersumber dari Alapet Rera Wulan, diturunkan di atas Alam (Adonara) Wai Jara. Ibarat seorang anak manusia, maka Ago’pake yang melekat pada dirinya akan membawa perubahan, bukan hanya terbatas pada penampilan, melainkan lebih diikuti tumbuhnya kemampuan/ketrampilan. Dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak peka menjadi lebih peka, dari yang tidak mampu menjadi mampu, dan seterusnya. Kemampuan-kemampuan ini menjadi “talenta” bagi seseorang yang dipakaikan itu.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Ekologi Budaya Masyarakat Adonara

Kemampuan-kemampuan (talenta) ini diarahkan terhadap dua hal, yakni bisa mendamaikan atau mempersatukan, tetapi juga merusak (menghancurkan). Dalam hal merusak, sesungguhnya lebih pada posisi menjaga atau mengawasi agar tetap terawat. Akan tetapi, jika tindakan yang dilakukan oleh manusia telah mengganggu kelestarian alam dan peruntukannya maka berubah menjadi merusak untuk mengingatkan.

“…Wai jara ago’pake naen rua. Ketou, ago’pake ama lake. Ni, wai jara beloene: wai pelatin, wai dendam. Kerua,  ago’pake ina wae. Ni wai jara beloene: wai perdamaian, wai mempersatukan sampe nuan tutu musim labot..”.

(Wai Jara memiliki dua ago’pake. Pertama, ago’pake laki-laki. Dalam hal ini, Wai Jara mengandung sifat panas, sifat denda yang dapat menghancurkan. Kedua, ago’pake perempuan. Dalam hal ini Wai Jara mengandung makna mendamaikan sampai dunia kiamat).

Badai seroja yang diyakini menyatu dengan alam Ile Boleng dan meluluhlantahkan rumah-rumah penduduk dan korban jiwa yang dilihat sebagai murka Ile Boleng itu merupakan wujud kemurkaan dari ago’pake ama lake. Dalam hal ini dikarenakan  kerusakan alam Ile Boleng sudah tidak dapat ditolerir.

 

Kewa Rera Gere Sebagai Penguasa Wai Jara

Siapa Kewa Rera Gere sebenarnya? dan mengapa dia harus menjadi penguasa sumber air Wai Jara terletak di puncak  Ile Boleng?

Alkisah, Kewa Rera Gere adalah putri tunggal Tupe Tadon Pito dan Sedon Lipat Lema. Pasangan ini berasal (muncul) dari alam Adonara-Ile Boleng, yang dalam bahasa masyarakat setempat disebut buta bete walan mara, tana tawan ekan gere.

Ini ritual Baulolon sebelum suatu urusan dibicarakan atau dilaksanakan..sy coba cari foto Ile Boleng
Salah satu Tokoh adat yang menggelar Ritual Baulolon, sebelum suatu urusan dibicarakan atau dilaksanakan. //Foto: Dok. pribadi

Kemunculan mereka sebagai sepasang anak manusia (laki-laki dan perempuan) dari dalam salah satu  “batu yang berpintu” di bekas perkampungan Riawale setelah bayi Kewae Sedo Bolen (tutur keberadaannya akan ditulis dalam seri berikutnya) tiba di tanah Adonara (Riawale) oleh Dewa Saduki. Pasangan ini kemudian bertemu dengan Kewae di puncak Ile Boleng. Mereka menjadi bersaudara, dan dalam keseharian mereka selalu bersama-sama menjalani kehidupan dengan pola berpindah-pindah (nomaden) untuk mencari sumber (makanan) kehidupan di wilayah puncak Ile Boleng dan sekitarnya.

Baca Juga: Dibiayai Rp. 6,5 M BTT, Plat Deker Riangrita Ile Bura Tetap Darurat

Pasangan Tupe dan Sedon akhirnya menikah dan memilih tinggal berpisah dari Kewae. Kewae memilih tinggal di Woka Soin (Bukit Sion), sedangkan Tupe dan Sedon memilih pindah tinggal di Bao Wai Jara, dekat sumber air Wai Jara. Anak dari hasil pernikahan mereka bernama Kewa Rera Gere (selanjutnya ditulis Kewa).

Kewa memiliki temperamen dikenal keras dan sangat sulit menerima nasihat orang tuanya. Dia sangat emosional jika menghadapi situasi yang tidak sejalan dengan keinginannya. Sepanjang hidupnya Kewa tidak menikah (kewae keriden) karena memang belum ada penghuni lain, selain kedua orang tuanya dan Kewae.

Sebagai anak tunggal, Ago’pake Ama Lake maupun Ina Wae bersumber dari Alapet Rera Wulan ke Alam Adonara-Wai Jara ini diturunkan (ditalentakan) ke KEWA RERA GERE. Dengan demikian, hak kepemangkuan dan penyelenggaraan ritual yang berkenaan dengan sumber air Wai Jara diwariskan kepada Kewa Rera Gere. Dalam perkembangan, dia dikenal sebagai Penguasa Wai Jara.

Keluarga korban bencana tanah longsor menyalakan lilin saat berziarah di areal permakaman massal di Desa Lama Nele, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Rabu (7/4/2021). /Foto: ISTIMEWA

 

Sebagai pewaris, Kewa memiliki talenta untuk mengendalikan sumber air Wai Jara. Misalnya, jika debit air naik, Kewa dapat menentukan ke arah mana air itu harus dialirkan. Ibaratkan sebagai sebuah rumah tinggal, maka kunci pintu rumah itu dipegang oleh Kewa. Kapan pintu rumah itu dibuka, kemudian ditutup lagi tergantung dari Kewa.

Setelah kedua orang tuanya meninggal, kehidupan di puncak Ile Boleng kembali menjadi dua orang, Kewae dan Kewa. Keduanya bergabung dan hidup bersama-sama di bukit Sion, tempat tinggal Kewae yang letaknya tidak berjauhan dengan sumber air Wai Jara (bagian selatan).

Setelah Kelake dan Kewae menikah dan mempunyai keturunan, sumber air ini menjadi sumber air utama bagi kehidupan mereka di puncak Ile Boleng. Mereka tetap menghargai Kewa Rera Gere sebagai penguasa Wai Jara. Mereka juga tetap berkeyakinan bahwa sumber air ini sebagai sumber air yang dapat membawa malapetaka apabila pelanggaran yang  membawa kerusakan puncak alam Ile Boleng. Sebaliknya, bersifat mengampuni dan mendamaikan ketika terjadi murka alam, termasuk yang lainnya, seperti mempersatukan peristiwa alam yang dapat mewarnai kehidupan yang damai.

Kewa sebagai penguasa Wai Jara telah tiada. Mari kita anak Adonara duduk, bicara dari hati ke hati demi Adonara. Sebagaimana seri pertama, seri ini juga saya kembali mengajak: “Sejarah adalah Identitas karena itu semua orang merasa berkepentingan terhadapnya”.

Para warga, dan relawan yang terus datang memberikan bantuan dan dukungan di lokasi bencana Desa Nelelamadiken Adonara, pada Selasa, 06/04/2021, Siang. (Delegasi.Com/BBO)

***

Komentar ANDA?



About Delegasi Online

Check Also

Wali Kota Siap Dukung Muspel Pemuda Sinode GMIT ke-VI

KUPANG,DELEGASI.COM–Wali Kota Kupang, Dr. Jefirstson R Riwu Kore, MM, MH menyatakan dukungan penuh atas penyelenggaraan ...