Menteri Risma di Biara PRR, Sebuah Dialog Lintas Agama Yang Inspiratif

  • Bagikan
Cuitan Padre Marco Solo Kewuta, SVD. (PM/Delegasi.Com/BBO)

VATIKAN-DELEGASI.COM– Pilihan Menteri Sosial (Mensos) Republik Indonesia, Tri Rismaharini untuk menginap di Biara Puteri Reinha Rosari (PRR) Larantuka di San Juan Lebao, di sebuah kamar hotel di Kota Larantuka, saat berkunjung ke lokasi bencana banjir lumpur dan batu bandang di Adonara, 07/09/2021, mendapat atensi luar biasa dari Padre Markus Solo Kewuta, SVD, Staff Dewan Penasehat Kepausan Untuk Dialog Antar Umat Beragama, di Tahta Suci Vatikan, yang menyebutkan, bahwa Ibu Risma sedang melakukan sebuah contoh hidup bersama lintas agama yang sangat inspiratif.

“Beliau datang, tidak hanya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Menteri Negara, tetapi juga membangun dialog lintas agama,” demikian rilis cuitan Padre Marco, SVD, .sapaan khas Markus Solo Kewuta, SVD, Pastor asal Flores Timur, yang bertugas di Tahta Suci Vatikan, yang dikirim ke Redaksi Delegasi.Com, Larantuka, tepat, satu hari pasca kunjungan Presiden Joko Widodo ke Adonara, 09/04/2021.

Padre Markus Solo Kewuta, SVD saat menyambut Mantan Wapres Indonesia, Bapak Jusuf Kalla, di Vatikan, beberapa waktu lalu. (PM/Delegasi.Com/BBO)

 

Padre Marco dalam pandangannya menjelaskan, hal ini menarik untuk didalami.

“Disini, Saya melihat beberapa hal sebagai berikut: Pertama: Ibu Risma melakukan Dialog Kehidupan secara nyata.

Di depan penderitaan kemanusiaan, Kita semua sama rapuhnya, siapapun Dia.

Pengalaman ini harus diakui dan dialami oleh semua orang sebagai starting point yang penting, “terangnya.

Untuk itu, kata Padre Marco, tidak ada jalan lain, selain bersolidaritas satu sama lain.

“Hari ini giliranku, mungkin besok giliranmu.

Harus dalam semangat persaudaraan dan persahabatan untuk masuk dalam mengatasi berbagai masalah hidup ini.

Bagian terakhir ini, adalah bentuk d
Dialog Kerjasama (Dialogue of Collaboration) yang juga sudah selalu dicanangkan oleh Gereja Katolik, “ulasnya lebih dalam.

Kedua, sebut Padre Marco, Perbedaan-perbedaan lahiriah (Jilbab & Kerudung Biara) adalah simbol-simbol luar keagamaan yang harus membawa pesan tertentu.

“Pesan itu adalah pesan moral yang luhur dan mulia dari prespektif agama masing-masing, yang mendamaikan, yang menyegarkan, menyejukan dan merangkul, menyenangkan dan membahagiakan, yang mengubah air mata menjadi tawaria,” nukilnya, bernas.

Hal mana, sambung Ahli Islamologi jebolan Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir ini, ketika nilai-nilai luhur dan mulia itu dihidupkan secara nyata di dalam kebersamaan ini, maka jelas tidak ada lagi rasa takut, prasangka dan juga tidak ada lagi jurang pemisah di antara manusia beda agama, karena pesan kehidupan sejatinya, jauh lebih kuat yang meruntuhkan dan merusakan kehidupan bersama.

Sementara point penting yang ketiga adalah, Ibu Risma dan para Suster PRR melakukan Dialog Spiritual (Dialogue Spiritually) yang nyata dan indah.

“Ibu Menteri Sosial beragama Islam ini masuk ke dalam sebuah Biara Katolik, melihat dan merasakan roh kekatolikan, kental melalui berbagai patung, gambar kudus, dan kapela yang menjadi jantung kehidupan membiara.

Beliau harus merasa nyaman dan biasa dengan pemandangan dan situasi seperti itu, dan harus bisa tidur nyenyak di dalam sebuah kamar biara Katolik, “ungkapnya.

Sedangkan, pihak lain, para Suster mula-mula menyambut beliau dengan sebuah nyanyian khas Kristiani, dan menciptakan ruangan serta suasana hospitalitas yang indah, alami dan nyaman untuk Ibu Risma.

Atribut-atribut keagamaan mereka, tetap mereka pertahankan karena merupakan bagian dari identitas keagamaan mereka.

Kerudung dan Jilbab, sama-sama berfungsi untuk menutup kepala rambut, tanda ikatan bathin antara manusia dengan Tuhan, simbol penyerahan diri, pentahiran, perlindungan kehormatan dan kekudusan, “imbuhnya, menarik.

Menambahkan nilai, nilai-nilai spiritual ini bertemu dan berdialog dengan harmonis, sejuk dan damai.

“Itulah dialog lintas agama sejati.

Bukan berarti orang harus identitas kompleksitas identitasnya ketika bertemu dengan umat beragama lain.

Justru, keberagamaan dan perbedaan ini, Kita bertemu agar saling memperkaya, “tulis Padre Marco, lebih lanjut.

Bahkan, menurutnya, mempertimbangkan berbagai bencana, dan ancaman perpecahan bangsa, akan lebih baik jika semangat, cara pikir, cara pandang dan mentalitas inilah yang harus lebih dikedepankan dan dibudayakan.

“Dan, Ibu Risma telah memutuskan yang terbaik, yang tidak bisa diambil daripadanya.

Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini saat berada di Desa Nelelamadike, sewaktu Kunjungan Presiden Jokowi, Jumad, 09/04/2021. (Delegasi.Com/BBO)

 

Tetapi, justru sebaliknya justru justru lebih banyak memberi dari keputusan ini.

Mungkin bisa dibahasakan kekayaan yang diberikan kepada Ibu Risma ini dengan pepatah: Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Sekali berkunjung, banyak nilai indah ditaburi.

Dan, mudah-mudahan contoh bagus ini menginspirasi banyak orang menuju Indonesia, Rumah Kita Bersama, yang semakin rukun, aman, nyaman, dan damai.

Dimana, perbedaan-perbedaan luar, bukan menjadi masalah, “tutup Pastor yang banyak masalah dialog perdamaian antar umat beragama, Desk Dialog Katolik-Islam Asia-Pasific di Vatikan.

(Delegasi.Com/BBO)

Komentar ANDA?

  • Bagikan