Home / Polkam / “Adu Cerdas” Dua Mantan Panglima TNI di Pilpres 2019

“Adu Cerdas” Dua Mantan Panglima TNI di Pilpres 2019

Mantan Panglima TNI Bertarung Menangkan Capresnya: Djoko Santoso vs Moeldoko, Siapa Terkuat?

 

 

Jakarta, Delegasi.Com – Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 tak hanya milik pasangan Joko Widodo-KH Maruf Amin dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Tak kalah disorot, Pilpres 2019 juga menjadi palagan dua mantan Panglima TNI, Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso dan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko.

Semakin menarik karena keduanya yang pernah jadi atasan dan bawahan saat aktif sebagai prajurit TNI Angkatan Darat berada di dua kubu yang berseberangan.

Djoko Santoso yang juga Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini di pihak Prabowo Subianto-Sandi Salahuddin Uno, sementara Moeldoko sebagai Kepala Staf Presiden mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin.

Djoko Santoso Terunggul

Nama Djoko Santoso menjadi yang terunggul sebagai ketua tim pemenangan Prabowo-Sandi, selain tidak ada nama yang beredar di luar itu.

“Kalau nama sudah jelas saya. Insya Allah jelas saya ya,” ujar Djoko seusai menghadiri upacara peringatan HUT RI ke 73 di kampus Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta Pusat, Jumat (17/8/2018), disitat dari Kompas.com.

Kendati demikian, seluruh parpol koalisi belum menentukan orang-orang yang akan berada dalam struktur tim pemenangan.

Ia mengatakan, pembahasan soal pembentukan tiba baru dilakukan bersama PAN. Sementara pembahasan dengan PKS dan Partai Demokrat kemungkinan dilakukan pada Senin (20/8/2018).

“Ini baru digodok. Senin mungkin baru disamakan dengan Demokrat dan PKS. Dengan PAN kami berdua sudah rumuskan, dihaluskan,” kata Djoko.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo memastikan Djoko Santoso akan menjadi ketua tim pemenangan Prabowo-Sandiaga.

“1000 persen sudah fix Pak Djoko Santoso,” ujar Hashim saat dikonfirmasi di kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta Selatan, Senin (20/8/2018).

Hashim memprediksi parpol koalisi tidak keberatan jika Djoko Santoso menjadi ketua tim pemenangan.

“Ya saya kira demikian,” kata Hashim saat ditanya terkait kesepakatan parpol mitra koalisi soal penunjukkan Djoko Santoso.

Direstui Parpol Koalisi

Dua parpol koalisi yakni PKS dan PAN sudah memberikan sinyal positif terkait penunjukkan Djoko Santoso sebagai ketua tim pemenangan.

Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid, mengatakan partainya setuju Djoko Santoso menjadi ketua tim pemenangan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Meski belum ada komunikasi secara formal dengan Partai Gerindra dan parpol koalisi lainnya, namun pimpinan DPP PKS telah membahas rencana tersebut.

“Kami setuju dan kami mendukung Pak Djoko Santoso sebagai ketua tim pemenangan Prabowo-Sandi,” ujar Hidayat saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/8/2018), disitat dari Kompas.com.

“Informasi ini kan sudah menyebar di mana-mana dan kami bincang-bincang dengan pimpinan PKS dan membahas tentang informasi yang berkembang itu. Kalau nanti akan dibahas kami akan setuju,” ucap dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum PAN, Mulfachri Harahap, menyatakan partainya setuju atas penunjukan Djoko Santoso.

Sebab, kata Mulfachri, sebagai capres, Prabowo memiliki hak penuh untuk menunjuk ketua tim sukses.

“Kami sepakat. Soal tim pemenangan itu sepenuhnya menjadi otoritas Pak Prabowo,” ujar Mulfachri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8/2018).

“Tentu beliau akan memilih orang yang dianggap mampu bekerjasama kemudian sudah lama saling kenal sehingga tahu karakter satu dengan yang lain,” kata dia.

Tinggal Kesepakatan Tertulis

Beberapa hari setelah meyakinkan dirinya sebagai ketua tim pemenangan Prabowo-Sandiaga, Djoko Santoso mengaku seluruh parpol koalisi telah setuju.

“Ya secara lisan sudah, tapi secara tertulis belum,” ujar Djoko saat ditemui di kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta Selatan, Senin (20/8/2018).

Seluruh parpol koalisi tak keberatan saat Prabowo Subianto menunjuknya sebagai ketua tim pemenangan.

“Lisannya begitu. Kita tunggu saja, sabar,” kata mantan Panglima TNI periode 2007-2010 itu.

Djoko Santoso mengakui pihaknya masih menginventarisasi nama-nama yang akan berada dalam struktur tim pemenangan. Termasuk mereka yang diusulkan dari luar partai politik.

Nama-nama tersebut nanti akan dibahas bersama seluruh partai koalisi pada Selasa (4/9/2018).

“Tanggal 4 (September 2018) rapat lagi. Kami terus update ya dan itu kami harapkan merupakan mufakat dari seluruh parpol koalisi,” tutur Djoko.

Tokoh Nasional dan Jago lobi

Wakil Ketua DPP Partai Gerindra Edhy Prabowo mengatakan bukan tanpa alasan Prabowo menunjuk Djoko Santoso sebagai tim pemenangan.

Prabowo telah mempertimbangkan sejumlah kriteria, yakni tokoh nasional yang berdedikasi, memiliki kemampuan melobi, dekat dengan semua kelompok, dan diterima oleh semua kalangan.

“Beliau adalah tokoh nasional, jenderal yang sangat berdedikasi punya kemampuan melobi, dekat dengan semua kelompok dan menurut kami ya itu bisa diterima oleh semua kalangan,” ujar Edhy ditemui di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Selasa (14/8/2018) malam.

Selain itu, Edhy mengatakan bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno kemungkinan akan sepakat dengan penunjukkan Djoko Santoso sebagai ketua tim pemenangan.

“Tapi sekali lagi ini baru diusulkan Pak Prabowo, nanti harus minta pertimbangan partai pengusung lainnya,” kata Edhy.

Dalam pertemuan di Rumah Kertanegara hadir sejumlah petinggi Partai Gerindra, antara lain Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo, Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Djoko Santoso dan Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Fuad Bawazier.

Selain itu, hadir pula bakal cawapres Sandiaga Uno dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sugiono.

Mampu Antisipasi Isu SARA

Politikus PKS Hidayat Nur Wahid menilai Djoko Santoso memiliki kemampuan menata tim kampanye agar tidak terjebak pada konflik isu SARA (suku, agama, ras dan antargolongan).

“Sebagai mantan Pangab (Panglima TNI) tentu dia mempunyai kemampuan penataan organisasi dan tidak terjebak pada konflik terkait masalah SARA atau masalah sekadar perebutan jabatan,” ujar Hidayat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Sebagai ketua tim pemenangan, lanjut Hidayat, Djoko Santoso dinilai mampu mengarahkan agar kontestasi Pilpres 2019 justru tidak menghadirkan perpecahan di tengah masyarakat.

Figur Djoko juga dianggap sangat terukur, loyal terhadap Prabowo sejak Pilpres 2014, rendah hati, dan diterima oleh banyak pihak.

Di sisi lain, kata Hidayat, Djoko memiliki pengalaman menata organisasi untuk memenangkan Pilpres 2019 karena pernah menjabat sebagai Panglima TNI periode 2007-2010.

“Sebagai ketua timses saya kira beliau juga akan berperan untuk kemudian mengarahkan agar seluruh mekanisme menuju pada pilpres itu betul-betul dalam rangka NKRI dan tidak dalam rangka untuk menghadirkan perpecahan di antara semu,” kata Hidayat.

Bakal Bentuk Satgas Agama

Dalam struktur tim pemenangan pasangan Prabowo-Sandiaga bakal ada Satuan Tugas Agama.

“Di situ yang ada Satgas Agama,” ujar Djoko Santoso saat ditemui di kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta Selatan, Senin (20/8/2018).

Hal itu disampaikan Djoko Santoso saat ditanya apakah tim pemenangan Prabowo-Sandiaga akan melibatkan para tokoh agama.

Meski belum ada nama-nama yang ditetapkan, namun Djoko mengatakan satgas tersebut akan diisi oleh para tokoh lintas agama.

“Ya namanya tokoh agamalah, ya ulama, ustaz, kiai, ya pendeta,” tuturnya.

Kendati demikian, Djoko tidak menjelaskan secara detail terkait tujuan pembentukan Satgas Agama dalam struktur tim pemenangan.

Mantan Panglima TNI periode 2007-2010 itu mengatakan, Satgas Agama akan memberikan dakwah kepada masyarakat untuk bersatu terkait penyelenggaran Pilpres 2019.

“Tugasnya nanti kita rumuskan, yang jelas adalah memberikan satu tausiyah kepada rakyat untuk tetap bersatu, melaksanakan pemilu itu bukan perang, pemilu itu harus dingin, begitu lho,” kata Djoko.

Tak Pengaruhi Suara Parpol Koalisi

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris mengatakan bila Djoko Santoso ditetapkan sebagai ketua tim pemenangan Prabowo-Sandiaga pada Pilpres 2019, maka tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap partai politik mitra koalisi.

“Saya kira figur (ketua) tim pemenangan paslon tidak punya korelasi langsung dengan efek ekor jas (coattail effect),” kata Syamsuddin saat dihubungi Kompas.com, Senin (20/8/2018).

Syamsuddin menjelaskan, secara teori, efek ekor jas terhadap parpol koalisi akan sangat tergantung pada seberapa kuat dan efektif upaya partai tersebut mengasosiasikan dirinya dengan sang calon presiden atau calon wakil presiden yang mereka usung.

“Secara konteks teori, efek ekor jas hanya berlaku untuk capres atau cawapres yang diusung parpol yang berdampak pada hasil pileg,” kata Syamsuddin.

Pernah Ingin Jadi Presiden

Jauh sebelum itu, Djoko Santoso yang menjadi menjadi Ketua Dewan Pembina Gerakan Indonesia Adil Sejahtera Aman (Asa), pernah siap mencalonkan diri sebagai Presiden.

Namun, pria kelahiran Surakarta 65 tahun silam itu memastikan gerakannya bukan tujuan utama untuk mengantarnya jadi presiden.

“Dalam Islam menjadi pemimpin bukan tujuan utama, bukan fasilitas, bukan kenikmatan,” kata Djoko Santoso setelah melantik Kepengurusan Gerakan Indonesia Adil Sejahtera Aman (Asa) Kepulauan Riau di Batam, Senin (25/11/2013).

Djoko Santoso mengatakan menjadi presiden tak lain untuk menegakkan keadilan.

Menurut hematnya saat itu, hingga 68 tahun Indonesia merdeka namun masyarakat belum merasakan keadilan kesejahteraan dan keamanan.

“Gerakan Asa mendapat tanggapan positif banyak kalangan karena sesuai dengan keinginan masyarakat Indonesia,” ujar Djoko.

Hal ini sejalan dengan pidato Djoko Santoso saat mendeklarasikan Gerakan Nasional Indonesia Adil Sejahtera Aman (ASA) di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Senin (20/5/2013).

“Gerakan Nasional Indonesia, ASA, bertujuan memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa, agar berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang sosial budaya, untuk mencapai cita-cita Bangsa Indonesia,” kata Djoko dalam sambutannya seperti dilansir Tribunnews.com.

Dipilihnya 20 Mei 2013 sebagai hari deklarasi ormas yang dipimpinnya, lantaran hari ini dinilai bersejarah bagi bangsa Indonesia.

“Hari Kebangkitan Nasional ke-105 yang diperingati hari ini ditandai dengan berdirinya perkumpulan Budi Oetomo yang dipimpin Dr Wahidin Sudirohusodo,” tutur Djoko Santoso.

Menurut Djoko Santoso, jauh sebelum Budi Oetomo didirikan, pada abad ke-14 bangsa Indonesia telah mengalami zaman kejayaan di bawah Kerajaan Majapahit.

Bahkan, pada abad ke-7 Bangsa Indonesia juga telah mengalami zaman kejayaan di bawah Kerajaan Sriwijaya.

“Saya yakin dan percaya, pada abad ke-21 ini, pada 2045, 100 tahun Indonesia merdeka, kita Bangsa Indonesia akan kembai kepada kejayaan,” ucap dia optimistis.

Biodata Djoko Santoso

Sebelum menjadi Panglima TNI periode 28 Desember 2007-28 September 2010, Djoko Santoso menjabat sebagai Kepala Staf TNI AD dari 18 Februari 2005 hingga 28 Desember 2007 seperti dilanisir Wikipedia.

Ia mengawali kariernya di militer sebagai Komandan Peleton 1 Kompi Senapan A Yonif 121/Macan Kumbang. Ketika telah menjadi perwira tinggi ia memulai kariernya dengan menjabat Waassospol Kaster TNI (1998), Kasdam IV/Diponegoro (2000), Pangdivif 2/Kostrad (2001).

Namanya  berkibar setelah menjabat Panglima Kodam XVI/Pattimura dan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam) 2002-2003 yang berhasil gemilang meredam konflik di Maluku, diteruskan dengan jabatan berikutnya sebagai Panglima Kodam Jaya Maret 2003 sampai Oktober 2003.

Karier Djoko Santoso terus melejit hingga menjadi Wakil Kepala Staf TNI-AD (Wakasad) pada 2003, Kepala Staf TNI-AD (Kasad) pada 2005, dan akhirnya Panglima TNI pada 2007-2010. //delegasi(Kompas./Tribun)

 

Komentar ANDA?



About Delegasi Online

Check Also

Jejak Ribka Tjiptaning Tolak Vaksin hingga Dipindah ke Komisi Minyak

JAKARTA, DELGASI.COM – Ribka Tjiptaning bikin kontroversi setelah menolak vaksinasi. Tak lama berselang, posisinya di DPR dirotasi. ...