Berita  

Tinggal di Asrama Putri Kasih Abadi, Ini Syaratnya (1)

TIDAK HANYA BISNIS--Pemilik/pengelola Asrama Putri Kasih Abadi 1 dan 2, Adrianus Ceme, didampingi istrinya, Yolenta Wea, menyatakan, asrama yang dibangunnya tidak hanya orientasi bisnis. Foto:delegasi(Hyeron Modo).

DELEGASI.COM-KUPANG—Para mahasiswi yang menghuni Asrama Putri Kasih Abadi 1 dan 2 di kawasan Penfui, Kabupaten Kupang harus memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,0 pada semester pertama dan semester selanjutnya.

Asrama Putri Kasih Abadi 1 dan 2 ini khusus untuk putri atau mahasiswi. Jika pada semester pertama dan semester berikutnya IPK tidak mencapai persyaratan standar 3,0, yang ditetapkan oleh pemilik/pengelola asrama, maka mahasiswi bersangkutan diminta meninggalkan asrama tersebut.

Baca Juga;

Mahasiswi Asrama Kasih Abadi: Generasi Milenial Mudah Adaptasi dengan Teknologi (3)

Anton Bele Bicara Tentang Milenial Bersama Mahasiswi Asrama Kasih Abadi (1)

Hal itu disampaikan pemilik/pengelola Asrama Putri Kasih Abadi 1 dan 2, Adrianus Ceme, saat ditemui Delegasi.com, di aula asrama itu pada 19 November 2022 lalu. Adri Ceme, saat itu didampingi istrinya, Yolenta Wea.

Adri Ceme ditemui seusai seminar bertema; Saya Pribadi Milenial, dengan pembicara Dr.Antonius Bele, M.Si.

Seminar itu diikuti 60 mahasiswi penghuni asrama dari sekitar 130 jumlah mahasiswi yang tinggal di asrama tersebut.

IKUT SEMINAR–Mahasiswi penghuni Asrama Kasih Abadi mengikuti seminar tentang Saya Pribadi Milenial, di aula asrama itu pada 19 November 2022.Foto:delegasi(Hyeron Modo)

Adri Ceme membangun asrama khusus untuk mahasiswi punya misi tersendiri. Ia mau memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

“Misi saya adalah bagaimana saya menciptakan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Asrama yang dibangunnya beberapa tahun lalu merupakan bagian dari industri jasa pelayanan.

Khususnya segmentasi para mahasiswi. Hal mana penghuni Asrama Putri Kasih Abadi 1 dan 2, perempuan semua.

“Maka saya menciptakan pola pelayanan profesional,” jelasnya.

Profesional yang dimaksudkan adalah saya harus memberikan jaminan rasa aman dan nyaman bagi para mahasiswi penghuni Asrama Putri Kasih Abadi 1 dan 2.

Jadi, tegas Adri Ceme, pembangunan asrama khusus putri ini tidak semata-mata berorientasi bisnis.

“Tetapi, saya membuat perbandingan 60 persen bisnis dan 40 persen non bisnis. Enam puluh persen saya jalankan misi bisnis, dan 40 persen bagaimana saya menciptakan program –program yang bisa mendatangkan manfaat bagi penghuni asrama,” ujarnya.

Dengan demikian, kata Adri Ceme, ketika kelak para mahasiswi yang tinggal di asrama ini kembali ke masyarakat setelah selesai kuliah, secara akademis memang mereka sudah baik, tapi ada hal-hal yang sifatnya non akademis, mereka bisa belajar sendiri di sini.

RUMUSAN 4 N–Mahasiswi peserta seminar bertema Saya Pribadi Milenial sedang mengerjakan rumusan 4N Kwadran Bele, Sabtu (9/11/2022). Foto:delegasi(Hyeron Modo)

Belajar mandiri yang dimaksudkan, bagaimana mereka menjaga hati, menjaga pikiran dan menjaga diri selama mereka menjalani masa pendidikan di Kupang dan tinggal di asrama ini.

“Jadi, bagaimana saya berusaha supaya rasa percaya diri mereka harus kuat. Ketika mereka lepas dari orangtua kurang lebih empat sampai lima tahun, di asrama inilah mereka diuji,” kata Adri Ceme.

Di asrama ini pulalah para mahasiswi digembleng membentuk diri sendiri. Mengawasi diri sendiri dan bagaimana mereka menjaga kepercayaan orangtua selama mereka menjalani pendidikan di Kota Kupang.

Oleh karena itu, di asrama ini Adri Ceme, menyiapkan fasilitas yang dibutuhkan mahasiswi.

Tidak hanya kamar tidur, tapi dilengkapi fasilitas seperti tempat tidur, kasur spons, kursi dan meja belajar.

Ada ruang atau aula kecil untuk mereka terima tamu. Ada Wi-Fi, air dan listrik. Ketersediaan berbagai fasilitas tersebut memberikan satu nuansa atau suasana yang membuat mereka merasa bahwa di sinilah tempat yang paling nyaman untuk mereka tinggal dan belajar.

Karena itulah Adri Ceme, membangun asrama tidak sekadar berorientasi bisnis, tetapi bagaimana harus menciptakan satu kegiatan seperti seminar, pembinaan alkitab, mendatangkan pastor untuk merayakan ekaristi.

“Itu menurut saya bermanfaat bagi mahasiswi penghuni asrama ini, “ujarnya.

Program-program yang dilakukan secara rutin bagi penghuni asrama, selain bertujuan menambah wawasan pengetahuan, juga untuk menyatukan mereka sebagai satu komunitas asrama. Sehingga mereka saling kenal secara pribadi.

Belum Ada yang Gagal

Selama beberapa tahun ini Adri Ceme, mendampingi 130 mahasiswi penghuni asrama, minus mereka yang sudah tamat, belum ada mahasiswi yang gagal kuliah.

Kecuali ketika mereka memilih untuk keluar dari asrama ini, saat mereka masih kuliah.

“Itu yang saya tidak tahu. Apa yang terjadi di luar sana terhadap mereka. Tetapi, selama mahasiswi ada di asrama ini, saya punya kewajiban memberikan rasa aman dan nyaman bagi mereka,” tegas Adri Ceme.

Mengenai biaya asrama yang boleh dikatakan relatif terjangkau, Adri Ceme mangatakan, sebelum menetapkan tarif sewa asrama, ia dan istrinya, Yolenta Wea, mempertimbangkan berbagai kondisi, terutama kondisi orangtua penghuni asrama.

“Anak-anak asrama ini rata-rata datang dari jauh. Mungkin sedikit berbeda, dan kalau secara bisnis, biaya asrama ini mungkin kurang masuk akal. Biaya itu sudah termasuk berbagai fasilitas yang disediakan,” tambah Adri Ceme.

Lalu mengapa setiap kali ada mahasiswi yang wisuda, pemilik asrama selalu merayakan bersama di asrama.

Itu bukan sekadar promosi, tetapi pemilik asrama merasa bersyukur kepada Tuhan, karena kehadiran anak-anak asrama ini adalah berkat bagi pengelola/pemilik.

“Syukuran wisuda yang kami lakukan sebagai wujud kebanggaan kami. Bangga karena penghuni asrama berhasil menyelesaikan studinya di perguruan tinggi. Juga sebagai bentuk terima kasih kami kepada mereka yang telah memilih asrama ini sebagai rumah sendiri,” ujar Adri Ceme.

Adri Ceme dan istrinya Yolenta Wea, merayakan syukuran wisuda untuk mahasiswi yang sudah selesai kuliah, merupakan cara untuk mempromosikan para sarjana kepada adik-adiknya yang masih kuliah.

“Mereka yang wisuda inilah menjadi model atau contoh bagi mahasiswi yang sedang kuliah,” ujarnya.
Di asrama ini Adri Ceme punya standar perolehan IPK bagi penghuni asrama, yaitu terendah IPK 3,0.

“Tidak ada mahasiswi yang tinggal di asrama ini memiliki IPK di bawah 3,0. Standar minimal IPK 3,0, itu wajib terpenuhi,” tegas Adri Ceme.

Persyaratan IPK 3,0 ini, demikian Adri Ceme, merupakan salah satu cara untuk mendorong para mahasiswi agar rajin belajar.

“Bagi saya uang biaya asrama itu urutan kedua. Yang paling pertama adalah mereka berhasil dalam studi,” tambahnya.

Nama Kasih Abadi

Pemberian nama Asrama Putri Kasih Abadi melalui suatu permenungan. Sebab, nama itu punya arti. Saya memilih Kasih Abadi karena di dalam setiap perjalanan hidup kita, kasih itu yang menjadi dasar hidup dalam pelayanan.

Dalam praktinya pemilik asrama mengutamakan pelayanan tanpa harus mengesampingkan unsur bisnis.

“Uang kita butuh, tetapi uang bukan segala-galanya. Jika ada anak-anak asrama mengalami kesulitan keuangan, ia harus mengambil keputusan sebijak-bijaknya,” ujar Adri Ceme.

Jadi, jangan karena gara-gara uang (uang biaya asrama) lalu mengambil tindakan kepada penghuni asrama dengan mengeluarkan mereka dari asrama ini.

“Itu berarti saya lebih berorientasi uang. Saya selalu komunikasi pribadi dengan mereka, jika uang asrama belum beres. Saya selelau mendengarkan curahan hati (curhat) mereka,” kata Adri Ceme.

Nama Asrama Putri Kasih Abadi ini berasal dari hati nurani dengan mengutamakan pelayanan tanpa harus mengesampingkan unsur bisnis. Uang kita butuh, tetapi uang itu bukan segala-galanya.

Asrama Putri Kasih Abadi 1 berlantai tiga beroperasi sejak tahun 2011. Jumlah kamar 28 dengan total penghuni 56 orang.

Tiap kamar dihuni dua orang.
Asrama Putri Kasih Abadi 2 beroperasi sejak tahun 2014. Jumlah kamar 33 dengan jumlah penghuni 66 orang.

Tiap kamar dihuni dua orang. Saat ini total jumlah penghuni Arama Putri Kasih Abadi 1 dan 2 sebanyak 130 orang.

//delegasi(Hyeron Modo/bersambung)

Komentar ANDA?