Home / Polkam / Raymundus Sau Fernandez, Anak Petani Petarung Sejati
sosok
Raymundus Sau Fermandez, salah satu tokoh PDIP yang akan disurvey secara internal untuk diusung menjadi bakal Calon Gubernur NTT 2018 mendatang. Sosok Bupati TTU ini dinilai sangat menyatu dengan rakyat./foto Elas

Raymundus Sau Fernandez, Anak Petani Petarung Sejati

Kupang, Delegasi.com – Jelang suksesi Gubernur NTT 2018, Bupati TTU, Ray Fernadez menjadi sosok yang fenomenal. Politisi muda PDIP ini bakal bertarung ‘hidup mati’ dengan tiga  kandidat bakal calon lainya yakni, Kristo Blasin, Lucia Andinda Lebu Raya dan Daniel Tagu Dedo untuk keluar sebagai calon yang diusung Partai wong cilik itu. Empat sosok  yang nantinya akan disurvei secara internal PDI Perjuangan menjadi dinamika politik menarik di internal PDIP NTT. Siapakan yang keluar sebagai pemenang, hanya waktu dan keberuntunganlah yang mencatat itu. Untuk mengetahui siapakah sosok Bupati TTU dua periode itu, delegasi.com mencoba meramu sosok berwajah baby face ini  dalam tulisan berseri yang akan diturunkan secara bersambung  (1)

Raymundus Sau Fernandes, Masa Kecil  yang Tidak Beruntung.

Tak seperti kebanyakan anak seusianya yang hidup kerkecukupan. Keluarganya amat sederhana. Cuma petani biasa. Dari situ, Ray menjadi mengerti arti hidup sesungguhnya. Ia pun pantang menyerah berjuang merubah image orang susah atas keluarganya. Kecerdasannya membawanya menjadi orang TTU yang diperhitungkan saat ini. Sinarnya benar-benar berbinar untuk seluruh TTU. Seperti apa kehidupan masa kecil Ray yang getir itu?

Sosok  yang akrab disapa Rey Fernandez  ini merupakan putera sulung dari pasangan Bapak Yakobus M. Fernandez dan Ibu Margaretha Hati Manhitu, yang lahir pada 31 Agustus 1972, di Hue’nanan, Bijeli (belakang obyek wisata Oeluan). Kelahirannya membawa warna tersendiri bagi keluarga sederhana ini. Di masa kecilnya, keluarga ini diterpa masa paceklik yang mengancam nyawa. Rawan pangan dan kelaparan melanda hampir seluruh negeri. Ketergantungan pada hasil hutan seperti umbi-umbian (mae), kacang-kacangan, buah-buahan, dan biji asam serta pohon putak adalah pilihan makanan alternatif untuk mempertahankan hidup. Suatu kegirangan luar biasa bila dapat menikmati sepiring nasi atau sepiring jagung rebus.

Menyiasati kerawanan ini, kedua orang tua Ray harus berpikir siang dan malam untuk bagaimana membesarkan buah hati mereka. Di bawah naungan sebuah pondok beratap alang-alang, kedua orang tua Ray mulai membagi tugas. Sang ayah mencari kerja serabutan dengan menjadi buruh tani dan sesekali masuk hutan untuk mencari makanan. Sementara sang ibu membuat periuk tanah liat yang hasilnya kemudian dijunjung keliling beberapa kampung di sekitar Noemuti untuk dibarterkan dengan makanan dan kebutuhan lainnya.

Sawah warisan seluas 2 hektar dan ladang kering seluas 4 hektar tidak banyak diharapkan, lantaran musim hujan yang tidak menentu dan keterbatasan tenaga kerja. Hidup dalam kekurangan dari tahun ke tahun pada akhirnya membuka cakrawala pikir si kecil Ray yang mulai mengerti derita hidup kedua orang tuanya. Menyendiri dan merenung adalah sikap yang terkadang dilakukan oleh Ray di tengah keluarga.

Dari sering melakukan keheningan, Ray mulai mengambil tanggung jawab sebagai anak lelaki sulung. Dari membantu pekerjaan orang tua di dalam rumah hingga di luar rumah. Tak pelak, dalam usia 7 tahun, Ray sudah mengambil tugas sebagai penggembala sapi milik mereka. Ray juga keluar masuk hutan untuk mencari biji mahoni dan buah asam serta menyabit rumput untuk dijual kepada Om Baba di Noemuti demi mendongkrak ekonomi keluarga.

Dari cerita orangtuanya, Ray terkenal mampu mengorganisir saudara-saudaranya antara lain Serafina Lin Fernandez, Melkianus Aleus Fernandez, dan Martha Nino Fernandez untuk melakukan pekerjaan ringan yang dapat menyenangkan hati keluarga. Ray tidak malu untuk melakukan pekerjaan yang positif kendati di mata masyarakat apa yang dilakukannya adalah pekerjaan kasar level bawah.

Angkat Pacul

 Usai sekolah, si kecil Ray juga kerap angkat pacul membantu ayah membajak sawah milik mereka atau membantu ayahnya sebagai buruh tani dengan upah per hari atau per are.

Meski dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan, orang tua Ray tetap berupaya menyekolahkan putera-puteri mereka. Sebab, tuntutan zaman menghendaki, manusia harus berpendidikan. Itulah yang memotivasi keluarga untuk berinvestasi di bidang pendidikan. Syukur kepada Tuhan dan Bunda Maria kalau di antara hasil investasi keluarga kecil nan sederhana ini dapat berguna untuk kepentingan banyak orang.//delegasi (Elas)-bersambung

Komentar ANDA?



About Delegasi Online

Check Also

UPDATE…Korban Bencana di NTT: 181 Orang Tewas, 47 Hilang

KUPANG, DELEGASI.COM – Korban meninggal dunia akibat bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi ...