Indonesia-Timor Leste-Australia Sepakat Promosi Pariwisata Bersama

  • Bagikan

Labuan Bajo, Delegasi.com – Pertemuan delegasi dari tiga negara yakni Indonesia, Timor Leste dan Australia, yang digelar di Hotel Jayakarta, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) bersepakat untuk berkerja sama dalam sejumlah bidang.

Dalam kegiatan yang bertajuk The Senior Official Meeting of The Trilateral Economic Cooperation Indonesia-Timor Leste-Australia seperti dirilis kompas.com, digelar 11-13 April 2018, membahas tentang ekonomi, pariwisata, peternakan, perikanan, pendidikan dan kesehatan.

 

Wisatawan asing dan Nusantara diharuskan memakai life jacket selama berwisata dengan menggunakan kapal rakyat selama ke Pulau Komodo dan Rinca di Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Rabu (22/3/2017).

Delegasi Australia dipimpin oleh Jeremy Bruer, selaku Assistant Secretary Southeast Asia Maritime Branch, Department of Foreign Affairs and Trade. Sedangkan delegasi Timor Leste dipimpin oleh Joao Mendes Goncalves dan delegasi Indonesia dipimpin oleh Bobby C Siagian.

Satu bidang yang dibahas khusus dan akhirnya ditindaklanjuti dalam bentuk kesepakatan bersama oleh para delegasi adalah sektor pariwisata.

Para peserta lomba dansa menunjukkan kebolehannya di depan kantor Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (24/11/2017).

Kepala Dinas Pariwisata NTT Marius Ardu Jelamu yang ikut dalam pertemuan itu, menyampaikan sejumlah potensi daerah yang ada di NTT.Marius menjelaskan sejumlah obyek wisata di NTT yang sudah mendunia, seperti Pulau Komodo, Danau Tiga Warna Kelimutu, Pulau Sumba, Pulau Timor, Alor, Rote Ndao dan wisata perbatasan.

 

Usai pertemuan itu, Marius kepada sejumlah wartawan menjelaskan, tiga negara tersebut telah membuat MoU terkait dengan pengembangan pariwisata di tiga negara yang bertetangga itu.

“Indonesia, Timor Leste dan Australia sepakat untuk melakukan promosi pariwisata bersama sehingga ini adalah hal yang luar biasa,” kata Marius.

Desa Adat Wae Rebo di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai desa itu tidak mudah, wisatawan harus mendaki sejauh 7 km selama kurang lebih 4 jam.

Menurut Marius, akan ada pula kerja sama untuk mendatangkan kapal pesiar dari Australia ke Timor Leste dan Indonesia khususnya NTT.Para wisatawan internasional, lanjut Marius, yang masuk melalui Darwin (Australia) menggunakan kapal pesiar akan dibawa ke Dili (Timor Leste) dan NTT.

 

Pemerintah Timor Leste, juga siap mengikuti festival seni dan budaya di wilayah NTT, khususnya wilayah perbatasan seperti festival Likurai dan musik perbatasan serta, Tour di Timor dan Tour de Flores.

“Kita akan menyusun paket tournya ke Darwin, Australia dan Timor Leste. Ini tentu teman-teman Asita di Indonesia, Timor Leste dan Australia semua akan terkoneksi dalam kerja sama ini, untuk marketing dan promosi pariwisata kita,” katanya.

Pasola di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Marius menjelaskan, delegasi Australia dan Timor Leste, setelah selesai pertemuan itu, akan menggelar pertemuan lanjutan untuk menggandeng pihak swasta guna menindaklanjuti kerja sama tersebut.”Jadi, kerja sama bukan hanya antara pemerintah, tapi juga antara pelaku bisnis hingga masyarakat,” ucapnya.

Untuk mendukung kerja sama itu, menurut Marius, saat ini pembangunan pelabuhan khusus untuk kapal pesiar di Labuan Bajo telah dipercepat dan targetnya pada bulan September 2018 sudah rampung.

Wisatawan di Kampung adat Mbaru Gendang Ruteng Puu, Kecamatan Langke Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur salah satu kampung tertua di wilayah Flores Barat.

Di samping itu, sambung Marius, pihaknya juga mendorong pemerintah Australia, agar membuka slot penerbangan dari Darwin ke Kupang maupun Labuan Bajo.”Ini sesuatu yang positif dan pemerintah Australia dan Timor Leste sangat mendukung kerja sama ini,” ucapnya.

Sementara itu Direktur Kerja Sama Ekonomi Asia Kementerian Koordinator Perekonomian Bobby C Siagian mengatakan, untuk mendukung pengembangan pariwisata, pihaknya mendorong pembukaan penerbangan dari Australia ke NTT.

Tugu Kota Kalabahi, Alor, yang dikenal sebagai Bumi Kenari

Pihaknya juga, lanjut Bobby, akan segera berkoordinasi dengan instansi terkait, agar status Bandara Komodo lebih ditingkatkan.

“Kalau pelabuhan laut di Labuan Bajo statusnya sudah internasional, sedangkan Bandara Komodo masih domestik, sehingga perlu ditingkatkan menjadi bandara internasional,” tambah Bobby. //delegasi(kompas.com/hermen)

Komentar ANDA?

  • Bagikan