Semana Santa

  • Bagikan
Tuhan Meninu hendak menaiki perahu untuk memulai Prosesi Laut Semana Santa, Jumat (3/4/2015).//foto: pos kupang.com
Oleh: Itok Aman (penulis “Viabel Nostrum”)

“Misericordia Senhor Deus, misericordia.
Es Domine Es Salvator Noster”

 

MATANYA sedikit sembap. Ada codet luka menggores mukanya. Dari jidat kanan, codet itu menggurat pojok alis, melewati bagian pipi hingga ke dagu kiri. Membuat rautnya seperti hendak retak.

Bibirnya agak menguncup. Hidungnya bangir. Bintik noda kecokelatan tersebar di pipi dan dahi.

Inilah wajah Maria Dolorosa, Bunda Berdukacita, junjungan Kota Larantuka, Flores Timur.

Ada keanggunan dalam wajah itu: paras seorang Perempuan pedesaan bersahaja Eropa.

Air mukanya sendu, betul-betul berduka. Seluruh air matanya seolah-olah baru saja tumpah dan kelopak matanya, andai bisa kita usap, masih kita rasakan basah. Sorot matanya nanar.

Tatapannya kosong. Apalagi hanya muka dan telapak tangan kanan yang terlihat.

Jubah bersulamkan ornamen kembang-kembang putih keperakan membungkus seluruh tubuhnya setinggi satu setengah meter.

Cara jubah menyelimutinya juga demikian membersitkan pancaran kesedihan.

Yang ditangkupkan ke tubuhnya seolah-olah bukan sebuah mantel, melainkan selubung untuk meredam perasaan kehilangan.

Kita tak tahu apakah tubuhnya juga telah rusak di dalam. Asal-usul patung itu masih misterius.

Dari mana Peziarah berjalan kaki dalam arak-arakan patung Maria Mater Dolorosa (Maria Bunda yang Berdukacita) di Larantuka, Flores Timur.

Malam itu merupakan puncak perayaan sesta vera, tradisi khas masyarakat Larantuka dalam merayakan Jumat Agung.

Dan kapan sampai ke Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, tak ada yang tahu pasti.

Ada yang mengatakan Maria terdampar di Pantai Ae Kongga. Kapal Portugis abad ke-16 memang banyak yang karam di perairan Pulau Flores.

Mungkin, dari sekian kapal yang kandas, ada barang yang terapung—dan salah satunya patung Maria tersebut.

Kalau benar begitu, codet yang membelah pipinya itu bisa jadi lantaran patung tersebut diempaskan gelombang atau terbentur karang tajam.

Kisah lain, tiba-tiba saja patung Maria tersebut muncul tergeletak di pantai jauh sebelum kedatangan para misionaris Portugis.

Patung Maria Dolorosa dianggap amat keramat oleh warga Larantuka. Ia jantung-hati orang Larantuka, pancaran rohani mereka.

Sekali setahun pada Pekan Suci Paskah (Semana Santa), ia dikeluarkan dari Kapel Tuan Ma—tempat penyimpanannya.

Di mana-mana di belahan dunia, selama Paskah selalu diwarnai prosesi yang kebanyakan adalah arak-arakan Yesus memanggul salib.

Boleh dibilang tradisi mengarak patung Maria berduka tersebut hanya ada di Larantuka.

Kota ini tercemplung dalam genangan lamentasi pada hari Jumat Agung—saat perarakan Maria Dolorosa.

Seluruh kota seolah-olah terisap ke dalam rasa duka yang menggelantung di wajah patung itu.

Hawa laut yang berembus di kota kecil itu terasa memilukan. Imaji penderitaan, rasa penyerahan diri, dan kepasrahan kepada  “sesuatu yang tak terlihat” bercampur menjadi satu.

***

JUMAT Suci. Di Katedral Larantuka semua orang berkumpul. Maria, yang akan diarak, disandingkan dengan sebuah peti mati.

Peti mati ini bagian yang tak terpisahkan darinya. Peti ini pun hanya dikeluarkan sekali setahun.

Bedanya adalah tempat penyimpanan. Patung Maria disimpan di lemari jati di belakang altar Kapel Tuan Ma, sedangkan peti mati ini disimpan di Kapel Tuan Ana, yang letaknya di ruas jalan yang sama berjarak satu kilometer.

Budaya Warga Larantuka menyebut patung Maria sebagai Tuan Ma dan peti mati itu Tuan Ana. Seperti Maria, peti mati itu misterius.

Peti tersebut tak pernah dibuka ratusan tahun. Entah ada apa di dalamnya, tak pernah ada yang tahu.

Dari mana peti mati kuno itu berasal, tabu membicarakannya. Ada kepercayaan, siapa berani membuka, ia bakal mati seketika.

Mereka membawa lilin. Pakaian mereka hitam-hitam. Baju hitam, selendang hitam.

Ibu-ibu berkebaya hitam dengan motif salib hitam.

Anda mulai bisa merasakan bagaimana Larantuka terbenam dalam kesyahduan. Suasana mencekam.

Darasan doa sahut-menyahut, menyeret Larantuka ke dalam duka. Pada malam Jumat Suci, bila kita beruntung melihat wajah patung Maria, parasnya yang sendu makin bertambah sendu.

Ia seolah-olah hidup dan memberi getaran sampai jauh ke barisan belakang. Kota hening.

Tak ada suara apa pun—deru sepeda motor, suara celoteh manusia—semua binasa, kecuali gumaman doa.

Terasa kuat prosesi ini bukan sesuatu yang dibawa dari luar.

Ia tumbuh dari dalam, dari akar kultural Larantuka. Ia muncul dari basah-basah keringat serta darah petani dan nelayan Larantuka.

Kita melihat pintu rumah-rumah di kanan-kiri jalan yang dilalui prosesi selalu terbuka.

Di teras diletakkan meja kecil penuh bunga. Mengawali iringan, seorang berjalan di depan menabuh genderang perkabungan yang disebut genda do dengan ritme tertentu.

Bunyi ketukannya menimbulkan perasaan gamang dan miris. Ketukan ini seolah-olah satu-satunya suara yang hidup pada saat prosesi itu.

Di belakang penabuh, rombongan anak-anak membawa salib hitam, serai, dan dua lilin besar, serta rombongan pembawa lukisan rangka manusia.

Sungguh ini suatu teater kematian. Disusul anak-anak yang membawa alat-alat penyengsara Yesus: krenti (rantai), krona spina (mahkota duri), tiga batang palu besar, dan alat penusuk.

Selain itu, tongkat dan bunga karang yang dipakai untuk mencelup cuka yg diminumkan kepada Kristus agar ia bisa mati dalam keadaan tak sadar, juga lembing yang merobek lambung Yesus.

Lalu ada tempayan, lambang sikap kemunafikan Pontius Pilatus, wakil pemerintah Roma di Yerusalem yang menyerahkan Yesus kepada orang-orang Yahudi.

Juga ada tripleks berbentuk ayam: pertanda Petrus, murid yang sempat menyangkal setelah Yesus ditangkap.

Peti mati Tuan Ana beserta tatakannya dipikul empat orang.

Mereka mengenakan kostum putih gaya Portugis abad pertengahan dan topi kerucut merah.

Wajah mereka tertutup. Hanya ada celah yang memperlihatkan mata. Mereka adalah orang” yg bernazar khusus, sering kali orang dari luar Larantuka, seperti Jakarta dan kota lain di Indonesia, bahkan dari luar negeri.

Mereka memerankan Nikodemus, yang menurunkan Yesus dari salib lalu memakamkannya di Bukit Golgota.

Nikodemus adalah anggota majelis Farisi yang diam-diam mengasihi ajaran sang Guru.

Ia membawa campuran minyak mur dan gaharu. Dan mengafani Isa dengan kain linen.

Warga Larantuka dengan lafal lokal menyebut para Nikodemus itu Lakademu.

Sebelum para Lakademu menggotong peti mati dari Katedral, sore harinya mereka menampilkan suatu ”teater” di penguburan umum Larantuka.

Mereka menyeruak di antara nisan-nisan dan peziarah yang memadati pemakaman.

Hari-hari menjelang Paskah, pekuburan Larantuka penuh peziarah. Sanak saudara yang meninggal membersihkan dan memperindah nisan.

Lilin-lilin ditancapkan. Suasana makam sebelum prosesi arak-arakan patung Maria Mater Dolorosa (Bunda Maria Yang Berdukacita).

***

Malam ITU merupakan Puncak perayaan Tradisi Khas ‘masyarakat Larantuka Dalam, merayakan Jumat Agung.

Masyarakat Lokal berziarah Ke Makam Keluarga mereka untuk merayakan Duka Bunda Maria PADA malam saja Jumat Agung.

Di antara keriuhan itu, para Nikodemus berseliweran. Begitu masuk gerbang pekuburan, mereka langsung berjalan lurus menuju titik tengah pemakaman.

Mereka berkeliaran dari nisan ke nisan. Pada saat prosesi, setiap langkah mereka berhenti, prosesi iring-iringan yang mengular sampai lebih dari sekilometer itu pun berhenti.

Ada delapan titik perhentian yang disebut armida. Armida melambangkan perhentian jalan salib—perjalanan penderitaan Yesus ke puncak Golgota.

Tradisi Kristiani mengenal 14 titik penderitaan Yesus, tapi di Larantuka hanya ada 8 titik.

Pada setiap armida terdapat momen seorang perawan muda bergaun biru melantunkan lagu Ovos.

O vos omnes qui transitis peer viam Hai kamu sekalian yang lewat di jalan Suaranya sangat menyayat.

Seolah-olah itu satu-satunya suara yang diizinkan Tuhan muncul di bumi.

Seluruh iring-iringan prosesi hening, khidmat mendengarkan suara itu.

Betapapun jauhnya, sayup-sayupnya yang perih menembus kalbu. Sembari bernyanyi, si penyanyi perlahan-lahan membuka gulungan bergambar simbol wajah Kristus bermahkota duri.

Tubuh wanita itu memutar menghadap setiap arah pejalan. Tangannya menunjuk pada wajah sang Kristus.

Ecce Homo. Lihatlah manusia ini. Attendite et videte: Si est dolor sicut dolor meus Perhatikan dan lihatlah: Adakah duka sebesar dukacitaku.

Setiap kali Ovos selesai dilantunkan, satu anggota Konfreria, kelompok kaum pria non-biarawan, memutar alat dari kayu yang berbunyi krek kerek, krek kerek.

Itu alat yang mengimajinasikan bagaimana paku mulai ditancapkan pada telapak Yesus.

Para peziarah pada momen itu bisa membayangkan bagaimana sakitnya Kristus saat disalib.

Darah keluar dari telapak tangan dan kakinya.

Tiap kali berhenti di armida, dilakukan pemberkatan salib. Lalu umat bersama-sama menyenandungkan lagu sesal tobat.

Kasihanilah kami Tuhan Allah, kasihanilah kami, sembari bersimpuh di jalan: Misericordia Senhor Deus, misericordia. Kasihanilah, Tuhan Allah, kasihanilah.

Salah satu bagian prosesi yang menarik, seperti saya pernah saksikan, adalah ketika ibu-ibu berkerudung berjalan membawa kain besar hitam yang diangkat ke atas kepala mereka.

Kain hitam itu digelombang-gelombangkan.

Mereka melambangkan diri sebagai wanita-wanita Yerusalem, satu-satunya kaum yang berani menyatakan belasungkawa atas kematian Kristus.

Mereka seolah-olah bermetamorfosis menjadi Maria Magdalena, Maria Kleopas, dan Maria ibu Yakobus, salah satu murid Yesus yang pada saat Yesus berjalan memanggul salib berani menyeruak sampai algojo terkesima melihat keberanian mereka.

Bahkan, saat Maria Magdalena tersungkur memeluk salib Kristus, algojo tak menghalangi.

Es Domine Es Salvator noster Engkau, O Tuhan Engkaulah Penyelamat kami Pupilli facti sumus absque patre matres nostrae quasi viduae: Kami menjadi anak yatim, tak punya bapa, &ibu kami seperti janda Ibu-ibu itu lalu melakukan gerakan-gerakan tak terduga.

Mereka menyerong ke sana-kemari, menyamping kanan-kiri, terhuyung-huyung sana-sini membelah iring-iringan.

Kadang mereka membungkus seluruh tubuh mereka dengan kain panjang itu.

Lalu, seperti hendak berontak, mereka berlari ke sana-kemari dengan meraung sejadi-jadinya.

Salah seorang dari mereka saat itu mungkin dalam keadaan kerasukan roh Tuhan.

***

Kunjungilah pelabuhan. Lihatlah perahuperahu dan sampan-sampan. Amatilah bagaimana warga bahu-membahu memasang kayu-kayu tempat lilin di rute-rute prosesi.

Pada hari Kamis Putih Sejumlah pria menunggu datangnya peti berisi patung Tuhan Yesus wafat disalib dari Kapel Tuan Meninu, Flores Timur.

Peti tersebut akan dibawa menuju Pantai Kuce sebagai salah satu armida (perhentian) pada prosesi Jumat Agung.

Pada hari Kamis Putih, para sesepuh memandikan patung Maria.

Sepanjang hari itu sampai subuh Jumat,jemaat bersimpuh meminta air bekas cucian.

Ribuan orang berbaris tertib memanjang hingga tepi. Satu per satu mereka bersimpuh, mengusap kaki dan mencium kaki Maria.

Bergantian lima menit, mereka melakukan permohonan.

Sedangkan di kapel itu,ibu tua para mama muji terus menerus mendaras doa dgn bahasa Portugis kuno yang orang Portugal sendiri sekarang tak mengerti.

Mereka meminta keselamatan Larantuka. Pada saat bersamaan di Katedral, pada sore hari para Konfreria dalam balutan jubah putih berkalung medali Santo Dominikus melantunkan lagu-lagu dari ratapan Nabi Yeremias.

“Jalan-jalan Sion diliputi dukacita…. Lalu disambut kor bersama: Yerusalem,Yerusalem berbaliklah kepada Allah Tuhanmu….”

***

Jumat pagi, warga mengarak patung Maria dari Kapel Tuan Ma ke Katedral.

Dari sinilah pada pukul 7 malam itu inti prosesi dimulai. Dari sinilah kaki Anda seolah-olah ditarik oleh iring-iringan gaib. Mengikuti ke mana saja devosi itu bergerak.

Bila esok, setelah bangun pagi, tubuh Anda pegal-pegal, mandilah, lalu bersantai. Seruputlah kopi.

Tubuh Anda yang letih semoga segar kembali. Menghamburlah ke jalanan dan hiruplah udara Sabtu pagi.

Anda bisa menyaksikan atmosfer Larantuka berangsur pulih setelah prosesi dukacita.

Di sini, pada Sabtu pagi itu, seolah-olah terjadi sebuah katarsis.

Larantuka kembali normal. Dimana-mana warga mulai menggemakan Maria Hallelujah, yang mengalihkan suasana murung ke arah gembira yang mengharukan.

Perubahan suasana ini terasa menggetarkan dan sangat membekas.

Bahkan seperti aku yang hanya mendengar cerita ini dari mereka dan juga membacanya dari narasi setiap beberapa orang yang telah ikut menikmati lansung. //(*)

Kita kapan ke sana?


Seno Joko Suyono Majalah Tempo 100 Surga Tersembunyi 18-11-2013.

Lamentasi Maria, Semana Santa 2018

Komentar ANDA?

  • Bagikan