Imlek, Pilgub NTT dan Peran Media Pers

  • Bagikan

“Saat ini, masyarakat dan daerah Nusa Tenggara Timur sedang mencari dan membutuhkan model kepemimpinan transformatif yang selalu memberi inspirasi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi oleh rakyat.

Kita sesungguhnya membutuhkan sosok pemimpin yang terus maju dan bergerak bagi kemajuan dan peradaban. Kita merindukan pemimpin yang jujur dan mempunyai komitmen yang kuat untuk membangun daerah Nusa Tenggara Timur tercinta dengan program-program yang terukur dan realistis sesuai masa kepemimpinannya (hanya lima tahun),”  Valeri Guru, Pranata Humas Dinas Perpustakaan Provinsi NTT

Delegasi.com – Masyarakat Indonesia termasuk di Provinsi NTT yang beretnis Tionghoa baru saja merayakan Tahun Baru Imlek 2569. Tahun Baru Imlek telah menjadi hari libur resmi di Indonesia sejak tahun 1999 di era Presiden Gus Dur (KH Abdurahman Wahid). Karena merupakan hari libur nasional maka sangat memungkinkan saudara-saudara kita etnis Tionghoa untuk berhubungan atau berkumpul kembali dengan keluarga mereka dan merayakan kedatangan tahun yang baru tersebut.

Menurut penanggalan lunar, tahun 2018 adalah tahun anjing tanah dalam zodiak Cina yang akan berlangsung sejak 16 Februari 2018 hingga 4 Februari 2019. Anjing adalah zodiak ke sebelas dalam urutan putaran 12 zodiak dalam kepercayaan Cina. Dalam kepercayaan Tionghoa, anjing dipercaya sebagai binatang yang setia pada tuannya dalam keadaan apapun.  Jika ada anjing masuk rumah maka dipercaya sebagai keberuntungan.  Bahkan Dewa Erlan dalam legenda Cina juga menggunakan seekor anjing kayangan yang membantunya membasmi siluman jahat.

Dilansir dari Travel China Guide, watak dari pemiliki shio anjing adalah mandiri, jujur, setia dan tegas menurut kepercayaan Cina. Shio anjing dikenal sebagai pribadi yang tidak takut pada kesulitan yang dialami dalam hidup. Pribadinya yang bersinar dianggap memudahkan dalam hubungannya dengan orang sekitar. Peruntungan pemilik shio anjing pada tahun baru imlek 2018 ini dikatakan tidak terlalu baik.

Dalam ramalan Cina, shio anjing dikatakan akan mengalami naik turun dalam menjalani kehidupan di tahun anjing tanah ini. Dari segi karir, walaupun shio anjing dikenal berorientasi pada karir, tahun ini karir shio anjing akan biasa-biasa saja dan tidak mengalami kenaikan jabatan. Pada tahun ini shio anjing juga harus berhati-hati dalam mengatur keuangan, walaupun begitu diramalkan akan ada kenaikan gaji dan tahun yang baik untuk investasi. Sedangkan dalam segi asmara, shio anjing pada tahun ini cukup baik. Akan ada kemungkinan pernikahan, atau kehidupan asmara yang normal. Shio anjing juga disarankan lebih menjaga kesehatan dengan berolahraga jika ingin menghindari penyakit-penyakut ringan yang disebabkan karena kelelahan.

Pilgub NTT

Lalu apa hubungan Imlek  atau shio anjing tanah dengan pelaksanaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) NTT ? Di Provinsi NTT tahun ini akan digelar Pilgub NTT periode 2018-2023 dan pelaksanaan Pemilihan Bupati (Pilbup) di 10 Kabupaten yakni Kabupaten Kupang, TTS, Rote Ndao, Alor, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, Manggarai Timur, Nagekeo, Ende dan Sikka. Khusus untuk Pilgub NTT, pihak penyelenggara yakni Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) NTT telah menetapkan empat (4) pasangan calon dengan nomor urut masing-masing. Nomor urut 1 pasangan Esthon L. Foenay dan Chris Rotok; pasangan nomor urut 2 Marianus Sae dan Emilia J. Nomleni; pasangan urut 3 Beni K. Harman dan Benny A. Litelnoni ; serta nomor urut 4 pasangan Victor Bungtilu Laiskodat dan Yosep A. Nae Soi.

Sesuai jadwal KPUD NTT prosesi pemilihan akan terjadi pada Rabu 27 Juni 2018 yang akan datang. Kini saatnya para pasangan calon sedang menggelar kampanye untuk menyampaikan visi, misi dan gagasan mereka dalam memimpin daerah ini lima tahun ke depan. Karena itu, ada baiknya kita semua diajak untuk dapat memberikan dukungan dan partisipasi yang nyata berupa curahan ide dan gagasan; baik kepada para kandidat maupun kepada para pemilih (khusus yang namanya sudah ada di dalam daftar pemilihan sesuai pencocokan dan penelitian dari petugas) untuk cerdas dan santun dalam memilih pemimpinnya.

Saat ini, masyarakat dan daerah Nusa Tenggara Timur sedang mencari dan membutuhkan model kepemimpinan transformatif yang selalu memberi inspirasi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi oleh rakyat. Kita sesungguhnya membutuhkan sosok pemimpin yang terus maju dan bergerak bagi kemajuan dan peradaban. Kita merindukan pemimpin yang jujur dan mempunyai komitmen yang kuat untuk membangun daerah Nusa Tenggara Timur tercinta dengan program-program yang terukur dan realistis sesuai masa kepemimpinannya (hanya lima tahun). Waktu yang masih tersisa hingga Juni yang akan datang ini semoga dapat memberikan pencerahan dan pencerdasan yang efektif agar rakyat NTT tidak terjebak dan dijebak dalam menjatuhkan pilihan politik mereka.

Peran Media Pers

Sebelum merayakan Imlek, masyarakat pers pun merayakan dan memperingati Hari Pers Nasional (HPN) yang puncaknya tahun ini digelar di Padang, Sumatera Barat. Dalam suasana HPN dan dalam konteks pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) termasuk di NTT, peran media pers sangat penting dan strategis. Mengapa ? Karena media pers memproduksi berita. Berita atau informasi merupakan sebuah kabar gembira: membawa harapan, sekaligus memupuk semangat.

Kebutuhan akan informasi bahkan mengalahkan kebutuhan badaniah yang primer, seperti makan minum, juga kebutuhan sosial. Berita merupakan kebutuhan pikiran, nutrisi buat jiwa. Ketika aliran berita tersumbat, kegelapan menimpanya dan kecemasan berkembang, tulis sejarawan Mitchell Stephens (History o News, 1988) seperti dikutip Kovach dan Rosentiel; bandingkan M. Subhan SD dalam Media Massa dan Dunia yang Sunyi , Harian Kompas, Sabtu 10 Februari 2018.

Bagaimana dengan hari ini ketika revolusi digital telah mengubah paradigma, karakter, perilaku manusia tidak hanya dalam berkomunikasi tetapi juga dalam berinteraksi sosial. Sekarang ini, zaman berkelimpahan informasi. Tsunami informasi menjebol ruang dan waktu. Berita tidak lagi menjadi produksi pabrikan tetapi menjadi produksi personal/pribadi atau orang per orangan.

Paling menonjol adalah berkuasanya media sosial (medsos). Inilah yang belakangan ini terus mengharu biru publik. Tanpa mengesampingkan perannya sebagai sarana artikulasi kebebasan, demokratisasi dan kreativitas warga, medsos juga menjadi pabrik yang memproduksi berita bohong (hoax) dan berita palsu (fake news), prasangka buruk, bahkan fitnah, ujaran kebencian dan penghinaan.

Bahkan Dirjen Komunikasi dan Informasi Publik Kementrian Kominfo RI, Rosarita Niken Widiastuti mengatakan, ada 92,60 % sumber hoax berasal dari medsos seperti dilansir Harian Victory News, Jumat 9 Februari 2018. Bentuk saluran hoax melalui tulisan sebanyak 62 %, gambar 37,50 %, video 0,40 %. Sumber hoax dari radio 1,2 %, email 3,10 %, media cetak 5 %, televisi 8,70 %, situs Wet 34,90 %, dan lainnya. Karena itu menurut Niken, setiap informasi yang diterima dan beredar di medsos harus dicek terlebih dahulu kebenarannya. Hal ini membutuhkan kearifan dan kecerdasan masyarakatnya.

Tak bisa dipungkiri, inilah sebagian potret buram dari revolusi digital saat ini. Anehnya juga, banyak orang menelan mentah-mentah informasi atau berita yang diakses dan dibaca. Makin tak rasional karena nitizen cenderung memviralkan berita yang tak jelas juntrungannya itu. Anjuran think before sharing kerap dianggap angin lalu.

Sebenarnya kalau ditelusuri lebih jauh medsos sesungguhnya memberi andil besar terhadap penciptaan konstelasi dunia yang lebih baik. Namun mengapa wajah medsos di negeri ini lebih banyak kusam, termasuk memburamkan panggung politik? Meminjam Kovach dan Rosenstiel seperti dikutip di atas bahwa kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran.

Karena itu, apa yang dicemaskan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani yang mengatakan bahwa maraknya pers digital dan medsos dewasa ini belum dibarengi dengan meriahnya diskusi yang mencerdaskan. Media-media yang hadir dengan karya-karya yang merangsang intelektualitas dan diskusi yang mencerdaskan kini semakin langka, kata Sri Mulyani, Victory News, Jumat 9 Februari 2018.

Karenanya, Sri Mulyani berharap agar pers dan media dituntut tetap bisa menjaga sikap dasar, seperti kejujuran, integritas dan kesetiaan pada rasa keadilan (bandingkan Sri Mulyani, Kompas Jumat 9 Februari 2018).

Etos Kebenaran

Komitmen pers Indonesia harus tetap menjalankan fungsinya untuk mendidik, menghibur, dan melakukan kontrol sosial. Independensi pers harus tetap dijaga untuk menjaga marwah jurnalisme itu sendiri. Pers harus mampu menjalankan perannya sebagai rumah penjernih informasi yang baik dan benar di tengah maraknya hoax dan fake news. Nah, untuk menjalankan peran itu, pers dituntut untuk tetap berpegang teguh pada kode etik jurnalistik, meningkatkan profesionalisme jurnalis serta menyadari kembali bahwa jurnalisme hadir adalah untuk melayani kepentingan warga atau publik, bukan kepentingan yang lain.

Sehingga pers dalam melakukan tugasnya sebagai kontrol sosial bukan pertama-tama dengan memberi pelbagai komentar, melainkan pertama-tama dengan menyajikan informasi selengkap mungkin tentang apa saja yang terjadi di dalam masyarakat kepada masyarakat. Justru penyebaran informasi yang obyektif, yang berorientasi pada etos kebenaran, adalah cara utama pers menjalankan tanggung jawab etisnya dalam masyarakat, tulis Franz Magnis Suseno dalam Kuasa dan Moral, Gramedia Jakarta, 2001, hal 133.

Di titik ini, kita semua tentu sependapat jika spirit HPN dan Imlek menginspirasi masyarakat NTT untuk bijak dan cerdas menentukan pilihan politiknya. Belajarlah pada karakter anjing dan etos keberpihakan pers yang hanya membela kebenaran; bukan membela yang membayar. Sehingga kita menemukan dan mendapatkan pemimpin yang berkarakter tegas dan jujur serta hidup, karya juga dedikasinya hanya untuk rakyat Nusa Tenggara Timur tercinta. (*)

Komentar ANDA?

  • Bagikan